periskop.id - Anggapan bahwa minum obat hipertensi dapat merusak ginjal masih kerap beredar di masyarakat. Padahal, justru tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat menjadi “perusak senyap” yang perlahan merusak fungsi ginjal hingga berujung pada gagal ginjal.
Pengalaman tersebut dibagikan oleh Supriyanto, Ketua Umum Yayasan Komunitas Cangkok Ginjal Indonesia (YKCGI), yang juga merupakan pasien transplantasi ginjal. Ia mengaku dulu tidak disiplin mengonsumsi obat hipertensi karena khawatir obat tersebut justru merusak ginjalnya.
“Saya dulu berpikir kalau minum obat akan merusak ginjal, jadi saya tidak minum obat meskipun dokter sudah menyarankan,” kata Supriyanto pada konferensi pers Hari Ginjal Sedunia di Hotel Borobudur, Jakarta.
Tanpa disadari, tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol justru perlahan merusak fungsi ginjalnya. Ia baru mengetahui kondisinya setelah kadar kreatinin meningkat dan dokter mendiagnosis dirinya mengalami gagal ginjal pada usia 54 tahun.
“Saya juga tidak merasa apa-apa, tidak pusing atau keluhan lain. Tiba-tiba saja kreatinin saya tinggi dan diketahui sudah mengalami gagal ginjal,” ujarnya. Kondisi tersebut membuatnya harus menjalani hemodialisis atau cuci darah secara rutin.
Selama sekitar tiga bulan, Supriyanto menjalani cuci darah hingga tiga kali dalam seminggu. Setelah melalui berbagai pertimbangan, ia akhirnya memutuskan menjalani transplantasi ginjal pada 1 Agustus 2015 agar dapat kembali beraktivitas lebih leluasa.
Kini, setelah hampir satu dekade hidup dengan ginjal baru, ia menyadari pentingnya disiplin menjalani pengobatan dan menjaga pola hidup sehat. Ia juga mulai memperbaiki kebiasaan sehari-hari, seperti menjaga pola tidur dan rutin berjalan kaki sekitar 5.000 langkah setiap pagi.
“Kalau obat yang dianjurkan dokter tidak kita minum, efeknya cukup besar dan risikonya juga besar. Sekarang saya disiplin minum obat dan kontrol rutin,” katanya. Ia juga menekankan pentingnya dukungan keluarga untuk membantu pasien tetap konsisten menjalani pengobatan.
Dokter spesialis penyakit dalam, Dr. Pringgodigdo Nugroho, menjelaskan bahwa hipertensi memang menjadi salah satu penyebab utama gagal ginjal selain diabetes dan peradangan ginjal yang sering tidak terdeteksi sejak dini. Banyak pasien baru menyadari penyakitnya ketika fungsi ginjal sudah menurun cukup jauh.
“Diabetes nomor satu, kemudian hipertensi, atau peradangan ginjal yang sering tidak terdeteksi pada usia muda,” kata Pringgodigdo dalam konferensi pers Hari Ginjal Sedunia di Jakarta. Menurutnya, tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah kecil di ginjal yang berfungsi menyaring limbah dari dalam tubuh.
Kerusakan yang berlangsung lama membuat kemampuan ginjal menurun secara bertahap hingga akhirnya memicu penyakit ginjal kronis. Karena itu, mengontrol tekanan darah menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan ginjal sejak dini.
Ia juga mengingatkan masyarakat untuk memperhatikan perubahan pada urin sebagai salah satu tanda awal gangguan ginjal. Urin yang berbusa, keruh, atau berwarna kemerahan bisa menjadi sinyal adanya masalah pada ginjal.
“Kalau kencing sudah berbusa, itu salah satu tanda kebocoran albumin di urin. Kalau warnanya kemerahan biasanya karena ada darah, bisa dari ginjal atau dari salurannya,” jelasnya. Namun, pada banyak kasus, penyakit ginjal sering berkembang tanpa gejala pada tahap awal.
Karena itu, masyarakat diimbau tidak menunggu munculnya keluhan untuk memeriksakan kesehatan ginjal. Pemeriksaan rutin, termasuk tes urin setidaknya setahun sekali, dapat membantu mendeteksi gangguan ginjal lebih dini dan mencegah kerusakan yang lebih parah.
Tinggalkan Komentar
Komentar