periskop.id - Ketegangan di Timur Tengah kembali menimbulkan dampak langsung bagi Indonesia. Dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) tertahan di Selat Hormuz, jalur vital perdagangan minyak dunia yang kini menjadi titik panas akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa pihaknya terus menjalin komunikasi intensif dengan otoritas Iran untuk memastikan keselamatan kapal dan awaknya. Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika Kemlu RI, Santo Darmosumarto, menyampaikan bahwa kondisi kawasan yang belum kondusif menuntut diplomasi yang lebih aktif. 

“Terkait dengan tanker Pertamina, hal tersebut sedang ditindaklanjuti oleh rekan-rekan di KBRI Teheran karena memang dialognya harus dilakukan dengan pihak di pemerintah Iran,” ujarnya dilansir dari Antara, Jumat (6/3).

Santo menambahkan, koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di Iran terus dilakukan agar kepentingan Pertamina tetap terlindungi. 

“Langkah-langkah tersebut ditujukan supaya kapal tanker Pertamina yang terdampak pada akhirnya dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman,” tegasnya.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia turut menegaskan bahwa pemerintah sedang melakukan pendekatan negosiasi. 

“Ada dua kargo yang terjebak di Selat Hormuz, punya Pertamina. Sekarang kapal itu lagi sandar untuk cari tempat yang lebih aman, sambil kami melakukan negosiasi,” kata Bahlil. 

Ia memastikan bahwa insiden ini tidak mengganggu ketahanan energi nasional karena Indonesia segera mencari alternatif pasokan energi dari AS.

Pertamina sendiri memastikan keselamatan awak kapal tetap menjadi prioritas utama. Perusahaan energi pelat merah itu menegaskan bahwa seluruh kru dalam kondisi aman meski berada di tengah eskalasi konflik.

Selat Hormuz adalah jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dunia. Setiap ketegangan di kawasan ini berpotensi mengganggu stabilitas energi global.

Indonesia, sebagai negara importir minyak, memiliki ketergantungan pada jalur ini. Gangguan di Selat Hormuz bisa memicu kenaikan harga minyak dunia yang berdampak pada inflasi domestik.

Konflik Iran-AS-Israel yang memanas sejak awal 2026 telah meningkatkan risiko keamanan maritim. Beberapa negara lain juga melaporkan kapal mereka tertahan atau dialihkan demi menghindari eskalasi.