periskop.id - Sistem pertahanan militer Iran kembali mengejutkan dunia dengan peluncuran rudal Sejjil yang diarahkan ke sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Rudal tersebut diluncurkan sebagai bentuk balasan atas serangan yang sebelumnya dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel.

Peluncuran ini merupakan bagian dari gelombang ke-54 dalam operasi “True Promise 4” yang menargetkan Israel dan Amerika Serikat. Berdasarkan laporan Press TV, pasukan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan bahwa serangan balasan tersebut dilaksanakan dengan kode operasi “Ya Zahra”.

Selain rudal Sejjil, Iran juga meluncurkan beberapa rudal lainnya, seperti Khorramshahr, Kheybar, Qadr, dan Emad. Rudal Sejjil sendiri merupakan rudal berbahan bakar padat yang memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer.

Rudal-rudal tersebut ditujukan untuk menyerang pusat komando dan kendali serta infrastruktur militer penting milik rezim Israel. Lalu, apa sebenarnya rudal Sejjil dan seberapa besar dampak yang dapat ditimbulkannya?

Mengenal Rudal Sejji Iran

Berdasarkan informasi dari CSIS Missile Defense Project, rudal Sejjil adalah rudal balistik jarak menengah dua tahap yang menggunakan bahan bakar padat. Rudal ini memiliki panjang sekitar 18 meter, diameter 1,25 meter, dan berat peluncuran mencapai sekitar 23.600 kilogram.

Rudal ini mampu membawa muatan sekitar 700 kilogram dengan jarak mencapai 2.000 kilometer. Rudal ini memiliki hulu ledak yang sangat besar atau disebut high explosive (HE) sehingga menghasilkan dampak yang sangat besar.

Sejarah Pengembangan Rudal Sejjil

Pengembangan rudal Sejjil dimulai pada akhir 1990-an. Program ini merupakan kelanjutan dari pengembangan rudal Iran sebelumnya yang bernama Zelzal.

Rudal Sejjil menggunakan bahan bakar padat yang menunjukkan kemajuan teknologi bahan bakar dalam sistem persenjataan Iran. Penggunaan teknologi ini disebut-sebut juga mendapat dukungan dari China. Melalui pengembangan tersebut, Iran berupaya menunjukkan kemampuannya dalam memperkuat sistem pertahanan udaranya.

Secara dimensi, rudal Sejjil memiliki ukuran yang mirip dengan varian Shahab-3. Namun, penggunaan bahan bakar padat memberikan peningkatan signifikan dalam performanya. Jenis bahan bakar ini memungkinkan rudal diluncurkan lebih cepat dan lebih sulit dideteksi atau dicegat oleh sistem pertahanan lawan.

Meski demikian, rudal berbahan bakar padat memiliki karakteristik yang lebih sulit dikendalikan. Untuk mengatasi hal tersebut, para insinyur Iran melakukan modifikasi pada sistem yang sebelumnya digunakan pada rudal Shahab atau memanfaatkan bantuan teknologi dari pihak luar.

Peluncuran Rudal Sejjil

Peluncuran rudal Sejjil saat ini bukanlah yang pertama kali dilakukan Iran. Berdasarkan laporan CSIS Missile Defense Project, rudal ini pertama kali diuji coba pada tahun 2008. Dalam uji coba tersebut, rudal Sejjil dilaporkan mampu terbang hingga sejauh 800 kilometer.

Uji peluncuran kedua dilakukan pada Mei 2009 untuk menguji sistem panduan dan navigasi yang telah ditingkatkan. Setelah itu, tercatat ada empat uji peluncuran tambahan. Pada uji coba keenam, rudal Sejjil dilaporkan mampu mencapai jarak sekitar 1.900 kilometer ke wilayah Samudra Hindia.

Rudal Sejjil memiliki spesifikasi dan karakteristik yang dikembangkan secara khusus oleh Iran. Hal ini membuatnya berbeda dengan sejumlah rudal sebelumnya yang banyak meniru desain dari Korea Utara. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan bahwa proyek pengembangan rudal tersebut juga mendapat dukungan teknologi dari luar negeri.

Pada tahun 2021, rudal Sejjil kembali diuji dalam latihan militer Great Prophet 15. Dalam peluncuran tersebut, rudal ini dilaporkan telah dilengkapi dengan peningkatan pada sistem panduannya.