Periskop.id - Konflik bersenjata antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel di kawasan Selat Hormuz kini tidak lagi sekadar urusan militer, melainkan telah berkembang menjadi ancaman serius bagi ketahanan pangan dunia.
Melansir laporan resmi PBB pada Kamis (26/3), krisis ini mulai berdampak sistemik pada produksi pertanian global yang memengaruhi nasib petani hingga jutaan pekerja migran.
Kepala Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO), Máximo Torero, memberikan peringatan keras dari Markas Besar PBB di New York. Beliau menekankan bahwa komunitas internasional sedang berpacu dengan waktu untuk mencegah bencana kelaparan yang lebih luas.
“Faktor waktu sangat penting saat ini dan waktu terus berjalan dengan sangat cepat, dan saya pikir kita harus menemukan solusi secepat mungkin,” ujarnya melalui konferensi video dari Roma.
Kelumpuhan Jalur Maritim dan Guncangan Bagi Petani
Sejak perang pecah, aktivitas distribusi di Selat Hormuz telah berada pada titik nadir dengan laporan penurunan lalu lintas kapal tanker yang sangat drastis hingga lebih dari 90%.
Secara teknis, Selat Hormuz merupakan urat nadi ekonomi dunia yang dalam kondisi normal memegang peranan krusial dengan mengalirkan 35% aliran minyak mentah global atau setara sekitar 20 juta barel per hari, 30% perdagangan pupuk dunia, serta seperlima dari total pasokan gas alam cair (LNG) ke pasar internasional.
Lumpuhnya jalur ini menyebabkan para petani di seluruh dunia menghadapi apa yang disebut Torero sebagai guncangan ganda.
Kenaikan harga bahan bakar dan kelangkaan pupuk terjadi secara bersamaan, padahal keduanya adalah komponen paling krusial dalam biaya produksi pertanian.
Dampak Jangka Menengah bagi Konsumen
Ketidakpastian ini diperkirakan akan memengaruhi pasar secara luas jika tidak segera ditangani. Jika blokade berlanjut hingga tiga bulan ke depan, dampaknya akan terasa sangat nyata pada musim tanam berikutnya dalam bentuk penurunan hasil panen dan perubahan jenis komoditas yang ditanam.
“Skenario jangka menengah berupa blokade selama tiga bulan akan memengaruhi seluruh petani di dunia, dan kemudian kita akan melihat berbagai dampak yang terutama terasa pada musim tanam berikutnya,” kata Torero.
Situasi ini juga memicu kekhawatiran bagi konsumen. Jika harga minyak dunia menembus angka 100 dolar AS per barel, sektor biofuel akan bersaing ketat dengan sektor pangan dalam memperebutkan bahan baku.
Kondisi ini mungkin menguntungkan petani dalam jangka pendek, namun menurut Torero, ini akan berdampak buruk bagi konsumen karena harga akan meningkat.
Negara-Negara Rentan dan Nasib Pekerja Migran
PBB memberikan prioritas jangka pendek kepada negara-negara yang sedang dalam masa panen padi seperti Sri Lanka dan Bangladesh. Selain itu, negara-negara di Afrika yang sangat bergantung pada impor pupuk berada dalam posisi yang sangat rentan.
Kerentanan ini juga membayangi negara eksportir besar seperti Argentina, Brasil, dan Amerika Serikat.
Di kawasan Teluk, harga pangan di Iran dilaporkan telah melonjak tajam. Meski Iran memproduksi 70% pangannya sendiri, ketergantungan 30% pada impor tetap menjadi lubang menganga.
Sementara itu, negara pengimpor besar seperti Qatar dan Uni Emirat Arab menghadapi tantangan logistik karena tidak ada kapal yang berani menuju kawasan tersebut.
Dampak sosial lainnya menyerang jutaan pekerja migran asal Asia Selatan dan Afrika Timur yang bekerja di negara-negara Teluk. Pengiriman uang (remitansi) ke negara asal mereka terancam merosot tajam jika konflik ini terus berlarut-larut.
Menuju Solusi Strategis
Untuk meredam krisis, Torero mendesak adanya langkah-langkah darurat yang mencakup pencarian jalur pelayaran alternatif sebagai rute baru yang aman dalam jangka pendek serta pemberian dukungan finansial berupa bantuan neraca pembayaran bagi negara-negara pengimpor sebelum periode tanam dimulai.
Selain itu, diperlukan upaya diversifikasi dengan memperkuat cadangan regional dan mencari sumber impor pupuk di luar wilayah konflik, yang dibarengi dengan investasi strategis untuk meminimalkan guncangan di masa depan dengan cara memperlakukan sistem pangan dengan tingkat kepentingan strategis yang sama seperti sektor energi dan transportasi.
“Kita perlu memperlakukan sistem pangan dengan tingkat kepentingan strategis yang sama seperti sektor energi dan transportasi, serta berinvestasi secara tepat untuk meminimalkan guncangan tersebut,” pungkas Torero.
Tinggalkan Komentar
Komentar