Periskop.id - Gerakan Ansar Allah Yaman, dikenal sebagai Houthi, masih mempertimbangkan untuk memblokir Selat Bab al-Mandeb. Efek dari aksi ini dapat membuat harga minyak melonjak tajam.
"Ini masih harus diputuskan. Kami masih membahas rencana aksi bersama dengan saudara-saudara Iran kami. Hal terpenting adalah memperjelas kepada musuh-musuh kami bahwa kami tidak akan pernah menyerah," kata Mohammed Mansour, Deputi Menteri Informasi Di Pemerintahan Houthi, seperti dikutip portal berita Italia, InsideOver, Selasa (31/3).
Mansour menambahkan, Eropa juga harus memahami, jika mereka terus menjadi musuh Poros Perlawanan, maka pihaknya akan menaikkan harga minyak hingga US$200 (sekitar Rp3,4 juta) per barel. Hal ini akan mencekik perekonomian Eropa.
Selat Bab al-Mandeb merupakan jalur sempit strategis yang menghubungkan Laut Merah dan Samudra Hindia. Terkait konflik Iran, wilayah tersebut menjadi penting karena berpotensi terganggu oleh kelompok sekutu Iran, sehingga mengancam jalur perdagangan dan distribusi minyak global.
Pada akhir Februari lalu, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran hingga menyebabkan kerusakan dan korban sipil. Iran membalasnya dengan menyerang wilayah Israel dan fasilitas militer milik Amerika di Timur Tengah.
Eskalasi ketegangan di sekitar Iran telah menyebabkan blokade de facto terhadap Selat Hormuz, jalur utama untuk pengiriman minyak dan gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia ke pasar global.
Blokade tersebut juga berpengaruh terhadap tingkat ekspor dan produksi minyak di kawasan tersebut. Akibatnya, harga bahan bakar meningkat di sebagian besar negara di dunia.
Akhiri Operasi Militer
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kepada para stafnya, dia siap mengakhiri operasi militer terhadap Iran bahkan jika Selat Hormuz sebagian besar masih ditutup. Laporan itu ditulis The Wall Street Journal, Senin (30/3), dengan mengutip sejumlah pejabat pemerintahan Amerika, sebagaimana dikutip RIA Novosti pada Selasa.
Menurut laporan tersebut, dalam beberapa hari terakhir, Trump dan para stafnya menyimpulkan, misi untuk membuka Selat Hormuz secara penuh berpotensi memperpanjang konflik di luar rencana awal operasi, yang diperkirakan berlangsung antara empat hingga enam pekan.
Trump memutuskan, Washington sebaiknya berfokus pada tujuan utamanya, yakni membatasi kemampuan angkatan laut Iran dan persediaan rudalnya. Termasuk meredakan permusuhan yang sedang berlangsung, sambil secara bersamaan menekan Teheran untuk memulihkan kelancaran arus perdagangan.
Jika upaya tersebut tidak membuahkan hasil, Washington disebut akan mendorong sekutu-sekutunya di Eropa dan negara-negara Teluk Persia, untuk mengambil peran lebih besar dalam membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Laporan itu juga menyebutkan bahwa Trump masih mempertimbangkan opsi militer tambahan, tetapi langkah tersebut bukan menjadi prioritas utama dalam strateginya saat ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar