periskop.id - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengumumkan operasi pencegatan sekaligus penghancuran sebuah pesawat milik Amerika Serikat (AS) di wilayah selatan Isfahan. Pesawat tersebut tengah menjalankan misi pencarian pilot jet tempur F-15E yang sebelumnya tertembak jatuh.

​Stasiun televisi Press TV menyiarkan laporan keberhasilan operasi militer tersebut pada Minggu (5/4). Media pemerintah itu turut mengutip pernyataan resmi dari otoritas pertahanan udara Iran terkait insiden udara lainnya.

​Pasukan pertahanan udara Iran mengklaim sukses mencegat objek terbang tak dikenal di wilayah udara mereka. Mereka memastikan telah menghancurkan pesawat tak berawak atau drone jenis Hermes-900 milik militer Israel.

​Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengeluarkan pernyataan berbeda mengenai nasib armada tempurnya. Ia menyebut pesawat F-15E yang sempat jatuh di wilayah Iran tersebut sudah berhasil diselamatkan dalam keadaan aman.

​Trump menyampaikan klaim keberhasilan operasi penyelamatan tersebut pada Sabtu (4/4) malam. Pemimpin negara adidaya itu menambahkan puluhan pesawat militer ikut dikerahkan dalam menyukseskan misi tersebut.

​Rangkaian ketegangan udara ini merupakan buntut panjang dari agresi militer gabungan AS dan Israel. Kedua negara sekutu tersebut melancarkan serangan serentak ke sejumlah sasaran di wilayah Iran pada Rabu (28/2).

​Gempuran militer tersebut menyasar beberapa titik strategis termasuk ibu kota Teheran. Serangan ini dilaporkan menimbulkan kerusakan parah serta jatuhnya korban jiwa dari kalangan warga sipil tak berdosa.

​Militer Iran langsung mengambil langkah pembalasan keras menyikapi gempuran mematikan tersebut. Teheran balik membombardir wilayah Israel beserta sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

​AS dan Israel awalnya membangun narasi gempuran awal mereka murni bersifat pencegahan. Langkah agresif tersebut mereka klaim sangat diperlukan guna menangkal ancaman program nuklir Iran.

​Namun, narasi pencegahan senjata pemusnah massal itu kini perlahan mulai bergeser. Kedua sekutu tersebut belakangan justru secara terang-terangan menegaskan niat mereka mendorong pergantian kekuasaan di Iran.