Periskop.id - Arab Saudi mendesak AS untuk menghentikan blokade Selat Hormuz dan kembali berunding dengan Iran. Demikian dilaporkan Wall Street Journal Selasa (14/4), mengutip pejabat regional.

Menurut laporan tersebut Arab Saudi merasa khawatir, blokade Trump dapat menyebabkan Iran meningkatkan eskalasi dan mengganggu jalur pelayaran penting lainnya. Negara tersebut khawatir Iran membalas blokade dengan menutup Bab al-Mandeb - jalur sempit strategis di Laut Merah yang sangat penting bagi sisa ekspor minyak Saudi.

“Negara-negara Teluk tidak ingin perang berakhir, dengan Iran menguasai Selat Hormuz, jalur ekonomi vital mereka,” kata laporan itu.

Untuk itu banyak negara, termasuk Arab Saudi, mendesak AS untuk menyelesaikan masalah ini di meja perundingan dan berupaya keras untuk memulai kembali pembicaraan.

Laporan itu juga menyatakan, di balik sikap tegas yang ditunjukkan ke publik, AS dan Iran tetap menjalin komunikasi lewat perantara dan siap berunding jika keduanya bersedia lebih fleksibel.

Sekadar mengingatkan, Presiden AS Donald Trump mengumumkan blokade angkatan laut di Selat Hormuz, yang mulai berlaku pada Senin, pukul 14.00 GMT (21.00 WIB). Blokade tersebut dilakukan setelah Washington dan Teheran gagal mencapai kesepakatan dalam perundingan di ibu kota Pakistan pada akhir pekan.

Perundingan tersebut merupakan upaya yang lebih luas untuk mengakhiri serangan AS-Israel terhadap Iran yang telah menewaskan lebih dari 1.400 orang sejak 28 Februari. Perundingan sendiri digelar setelah kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu.

Balas Dendam
Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengkritisi blokade Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz dan mempertanyakan manfaat tindakan itu untuk perdagangan global.

“Bisakah perang dimenangkan dengan memilih balas dendam terhadap ekonomi global? Apa gunanya ‘memotong hidung sendiri’ untuk membalas dendam?” tulus Baghaei di platform X, mengacu pada tindakan irasional AS yang dianggap semakin memperburuk situasi.

Presiden Trump pada Senin (13/4) mengancam akan menghancurkan kapal-kapal Iran yang mendekati Selat Hormuz. Melalui unggahan di platform media sosialnya, Truth Social, Trump mengeklaim, Angkatan Laut Iran telah “benar-benar dihancurkan”.

Menyebut 158 kapal Iran telah dihancurkan, ia memperingatkan kapal-kapal lain untuk tidak mendekati pasukan AS yang memblokade Selat Hormuz. Atas perintah Trump, Komando Pusat (CENTCOM) AS mulai memblokade jalur maritim strategis tersebut pada Senin (13/4), setelah perundingan antara Washington dan Teheran gagal dicapai di tengah gencatan senjata.

CENTCOM mengatakan blokade akan diberlakukan “dengan tidak membeda-bedakan kapal-kapal dari semua negara” yang singgah di pelabuhan Iran di Teluk Persia dan Teluk Oman. CENTCOM memastikan, kebebasan navigasi melalui Selat Hormuz ke pelabuhan selain Iran, tidak akan terpengaruh.