Periskop.id — Menteri Keuangan Amerika Serikat Scott Bessent, memaparkan tiga skenario yang mungkin terjadi dalam perundingan AS-Iran terkait isu nuklir, keamanan, dan jalur strategis Selat Hormuz. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Forum Ekonomi Reagan 2026, Jumat (30/5/2026).

“Ada tiga skenario: kita mencapai kesepakatan; kita tidak mencapai kesepakatan tetapi tetap mempertahankan blokade dan terus menekan mereka; atau kita kembali pada tindakan militer,” ujar Bessent. Ia menilai tekanan yang berkepanjangan akan semakin memperburuk kondisi Iran.

Advertisement

Bessent menambahkan, Departemen Keuangan AS siap menjatuhkan sanksi tambahan terhadap Teheran dan masih memiliki sejumlah target finansial yang dapat dikenai pembatasan. Washington diyakini memiliki berbagai opsi untuk meningkatkan tekanan terhadap Iran secara diplomatik maupun ekonomi.

Krisis ini bermula pada 28 Februari 2026, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran yang menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Setelah itu, gencatan senjata dua pekan diumumkan pada 7 April 2026, namun perundingan lanjutan di Islamabad berakhir tanpa hasil, sehingga AS memberlakukan blokade terhadap pelabuhan Iran.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menekankan sejumlah isu utama, termasuk program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz, masih belum terselesaikan. Ia juga menegaskan kesepakatan hanya akan dicapai jika Iran sepakat untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dan menyerahkan sebagian uranium yang telah diperkaya untuk dimusnahkan melalui koordinasi dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA).

Di sisi Iran, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Esmaeil Baghaei, menyatakan, hingga Jumat (29/5), belum ada kesepakatan final dengan AS dan pertukaran pesan antarnegara masih berlangsung. “Fokus Iran saat ini adalah untuk mengakhiri perang. Pada tahap ini, kami tidak membahas detail mengenai isu-isu yang berkaitan dengan pengayaan uranium Iran atau uranium yang telah diperkaya,” jelas Baghaei. 

Ia juga menegaskan, pengelolaan Selat Hormuz di masa depan akan menjadi urusan bilateral Iran dan Oman.

Para analis menilai, ketiga kemungkinan hasil perundingan ini akan menentukan stabilitas kawasan Timur Tengah dan keamanan jalur pelayaran internasional, termasuk pasokan energi global yang krusial bagi negara-negara di Belahan Bumi Utara.