Periskop.id — Krisis yang berkepanjangan di Selat Hormuz berpotensi menimbulkan dampak serius bagi perekonomian global, termasuk negara-negara di Belahan Bumi Utara, menurut pernyataan bersama Dana Moneter Internasional (IMF), Bank Dunia, Badan Energi Internasional (IEA), dan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jumat (30/5/2026).
“Perang di Timur Tengah menimbulkan dampak yang besar dan sangat asimetris terhadap pasokan energi, ketahanan pangan, dan aktivitas ekonomi di berbagai negara dan wilayah,” bunyi pernyataan resmi keempat lembaga tersebut. Mereka menekankan bahwa negara-negara yang rentan paling terdampak oleh kenaikan harga bahan bakar dan pupuk, namun Belahan Bumi Utara juga tidak luput dari dampak jika krisis di Selat Hormuz terus berlanjut.
Keempat lembaga memperingatkan, persediaan minyak global kini menurun dengan kecepatan yang mendekati rekor sebagai respons terhadap hilangnya pasokan besar-besaran melalui Selat Hormuz. Jika arus pelayaran tidak kembali normal menjelang puncak permintaan musim panas, risiko terhadap keamanan pasokan bahan bakar, stabilitas pasar, dan ketahanan ekonomi akan meningkat signifikan.
Operasi Militer
Seiring meningkatnya ketegangan, Komando Pusat AS (CENTCOM) mengumumkan akan melakukan operasi militer di area utara Semenanjung Musandam, Selat Hormuz, dan menargetkan kapal-kapal yang terlibat dalam peletakan ranjau.
“Setiap kapal yang terlihat terlibat dalam, atau mendukung, kegiatan peletakan ranjau akan menjadi sasaran pasukan AS untuk membela diri,” bunyi pernyataan CENTCOM. Situasi keamanan jalur air ini terus menimbulkan ancaman maritim yang kritis.
Krisis di kawasan ini berawal pada 28 Februari 2026 ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, menimbulkan kerusakan dan korban sipil. Gencatan senjata dua minggu diumumkan pada 7 April 2026, namun perundingan lanjutan di Islamabad gagal mencapai kesepakatan.
Sebagai langkah tekanan, Amerika Serikat memberlakukan blokade pelabuhan Iran, meski Presiden Donald Trump kemudian memperpanjang penghentian permusuhan untuk memberi Iran waktu mengajukan proposal perdamaian.
Menurut analis ekonomi global, gangguan ini bisa mendorong kenaikan harga minyak dan bahan bakar, yang berdampak langsung pada inflasi dan biaya produksi di banyak negara. Sebelumnya, krisis serupa di Selat Hormuz pada 2022 menyebabkan lonjakan harga minyak hingga 10% dalam waktu singkat dan memengaruhi perdagangan komoditas strategis, termasuk CPO, biji kakao, dan gas alam.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar