Periskop.id - Singapura terus membuktikan taringnya di kancah global dengan mencatatkan pencapaian ekonomi yang luar biasa. Berdasarkan data terbaru dari publikasi asal Inggris, The Economist, Singapura resmi menempati peringkat sebagai negara terkaya kedua di dunia pada 2025.
Prestasi ini diukur berdasarkan Produk Domestik Bruto (PDB) per kapita yang mencapai angka fantastis sebesar US$90.700.
Posisi negara kota ini hanya berada satu tingkat di bawah Swiss yang memimpin di urutan pertama dengan PDB per kapita US$100.000. Sementara itu, posisi ketiga ditempati oleh Norwegia dengan catatan US$86.800.
Status sebagai salah satu pusat kemakmuran dunia ini memberikan fondasi kuat bagi Singapura untuk terus memperkuat infrastruktur dan sektor andalannya, termasuk pariwisata.
Rekor Pendapatan Pariwisata dan Investasi S$740 Juta
Keberhasilan ekonomi tersebut berbanding lurus dengan kinerja sektor pariwisata yang baru saja memecahkan rekor. Berbicara dalam acara Tourism Industry Conference 2026 yang digelar di Resorts World Convention Center pada 8 Mei, Menteri yang membidangi hubungan perdagangan Singapura, Grace Fu, mengungkapkan pencapaian yang sangat menggembirakan.
Melansir laporan Channel News Asia, pendapatan pariwisata Singapura pada tahun lalu mencapai rekor tertinggi sepanjang masa sebesar S$32,8 miliar.
Angka ini secara signifikan melampaui proyeksi awal Singapore Tourism Board (STB) yang sebelumnya diperkirakan hanya berada di kisaran S$29 miliar hingga S$30,5 miliar. Kenaikan ini merepresentasikan pertumbuhan sebesar 10 persen dibandingkan dengan perolehan pada 2024.
Sebagai respon atas kesuksesan tersebut, pemerintah Singapura tidak ingin kehilangan momentum. Singapura mengumumkan komitmen investasi sebesar S$740 juta atau setara US$584 juta untuk proyek pengembangan pariwisata selama lima tahun ke depan.
Dana ini meningkat drastis, bahkan lebih dari dua kali lipat dibandingkan alokasi Tourism Development Fund pada 2024 yang berjumlah S$300 juta.
Strategi Tourism 2040: Menuju Destinasi Global Utama
Investasi jumbo ini merupakan bagian integral dari strategi jangka panjang bertajuk Tourism 2040. Pemerintah Singapura menargetkan peta jalan ini dapat membawa pendapatan pariwisata negara mencapai angka S$47 miliar hingga S$50 miliar pada 2040 mendatang.
Berdasarkan data yang dikutip oleh VnExpress pada Jumat (8/5), kedatangan wisatawan internasional ke Singapura menyentuh angka 16,9 juta orang sepanjang tahun 2025.
Untuk tahun 2026, STB memproyeksikan tren positif ini akan terus berlanjut dengan estimasi kunjungan antara 17 juta hingga 18 juta wisatawan, dengan target pendapatan pariwisata di kisaran S$31 miliar hingga S$32,5 miliar.
Tantangan Global dan Ketahanan Industri
Meski berada di atas angin dengan status negara terkaya kedua, Grace Fu mengingatkan jajaran pelaku industri untuk tetap waspada terhadap dinamika global.
Melansir laporan The Straits Times, faktor eksternal seperti krisis energi yang masih berlangsung di wilayah Timur Tengah dapat memberikan dampak langsung pada biaya operasional serta daya beli atau belanja konsumen global.
Oleh karena itu, paket pendanaan S$740 juta tersebut tidak hanya dialokasikan untuk pembangunan fisik, tetapi juga untuk memperkuat daya tarik dan ketahanan industri pariwisata Singapura di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. Fokus utamanya adalah menjaga agar Singapura tetap menjadi destinasi pilihan utama bagi wisatawan kelas dunia di masa depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar