Periskop.id - Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan pasukan militer Iran telah menghancurkan radar pemantau milik Amerika Serikat (AS) di Oman, Jumat (17/7). Fasilitas pertahanan tersebut dilaporkan hancur total akibat serangan yang diluncurkan oleh pasukan elite tersebut.

Menurut pihak IRGC, penghancuran instalasi pemantau maritim milik negara adidaya itu terjadi di kawasan Salamah dan Pulau Ghanam. Aksi ini menjadi bagian dari rangkaian serangan terstruktur yang menargetkan aset strategis pihak asing.

"Pasukan angkatan laut IRGC menargetkan dan menghancurkan sebuah radar pemantau maritim di wilayah Salamah, serta radar pemantau milik AS di Pulau Ghanam, Oman, dalam gelombang ke-13 dari Operasi Nasr-2," tulis IRGC dalam keterangan resminya.

Pihak IRGC memaparkan serangan balasan dadakan juga diarahkan ke markas komando operasi khusus AS di At Tanf. Wilayah barat daya Suriah tersebut menjadi target karena menjadi pusat pergerakan pasukan musuh.

Gempuran rudal di Suriah diklaim merusak sistem pemantau udara milik AS. Selain itu, beberapa unit helikopter operasi khusus dan sejumlah personel militer dipastikan terkena dampak fatal.

Pihak IRGC menegaskan operasi militer ini sengaja digelar demi membalas agresi udara AS di dekat Kota Iranshahr. Serangan sepihak dari pihak lawan dinilai telah memicu eskalasi konflik di perbatasan tenggara Iran.

Insiden udara yang memicu kemarahan Teheran tersebut menewaskan sedikitnya tujuh personel militer domestik. Para korban gugur dikonfirmasi terdiri atas prajurit karier dan anggota wajib militer.

Serangan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) juga dilaporkan menyasar wilayah Yordania. Pihak IRGC mengklaim gempuran udara itu sukses melumpuhkan pesawat pengisi bahan bakar dan jet tempur AS yang sedang siaga.

Sebelumnya, konflik sempat mereda setelah kedua belah pihak menandatangani nota kesepahaman (MoU) pada pertengahan Juni lalu. Kesepakatan formal tersebut awalnya dirancang untuk menghentikan perselisihan bersenjata di antara kedua negara.

Namun, perdamaian terganggu sejak 8 Juli akibat pasukan AS yang kembali meluncurkan rentetan serangan. Komando Pusat AS (CENTCOM) berdalih tindakan agresif mereka menjadi respons atas manuver Iran terhadap kapal komersial di Selat Hormuz.

Ketegangan di Timur Tengah akhirnya kembali memuncak setelah pihak luar memulai provokasi baru. Pasukan Iran kemudian membalas tindakan tersebut dengan melancarkan sejumlah serangan terhadap pangkalan-pangkalan AS di kawasan Timur Tengah, pungkas IRGC.