Periskop.id - Final Piala Dunia 2026 antara Timnas Spanyol dan Timnas Argentina di New Jersey pada 19 Juli 2026 waktu setempat menutup turnamen yang mencetak rekor jumlah penonton sekaligus dinilai sebagai keberhasilan ekonomi besar bagi kawasan New York City dan sekitarnya.
Sejumlah pemimpin dunia dijadwalkan hadir di MetLife Stadium, termasuk Presiden AS Donald Trump, PM Spanyol Pedro Sanchez, Presiden Meksiko Claudia Sheinbaum, dan PM Kanada Mark Carney, bersama sekitar 80.000 penonton.
Euforia juga terasa di luar stadion. Sekitar 50.000 orang mengikuti nonton bareng gratis di Central Park Great Lawn, sementara pemerintah kota menggelar lebih dari 100 layar tonton di lima wilayah. FIFA menghadirkan upacara penutupan dan pertunjukan paruh waktu perdana dengan deretan bintang seperti Madonna, Shakira, Justin Bieber, dan BTS.
Turnamen ini dinilai sukses bagi tuan rumah Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, meski sempat dibayangi kekhawatiran harga tiket mahal, transportasi publik, hingga polusi asap kebakaran hutan Kanada.
Panitia tuan rumah New York-New Jersey mencatat dampak ekonomi signifikan. Studi mereka menunjukkan fase grup saja menghasilkan dampak langsung US$1,2 miliar. CEO panitia Alex Lasry mengatakan capaian ini mencerminkan besarnya aktivitas ekonomi selama turnamen.
Dari sisi pengalaman penonton, Gonzalo Perez yang telah mengikuti Piala Dunia sejak 1978 menilai skala acara di AS berbeda dari sebelumnya.
“Saya pikir Amerika Serikat punya yang terbaik dalam dunia hiburan, sesuatu yang tidak Anda temukan di negara lain,” kata dia, dikutip dari The Straits Times, Senin (20/7).
Aktivitas ekonomi terlihat dari berbagai sektor, mulai transportasi hingga konsumsi. Lebih dari 400.000 penonton menghadiri lima laga fase grup yang selalu penuh di MetLife Stadium. Layanan bus resmi seharga US$20 menjual 69.179 tiket dengan pendapatan US$1,4 juta. Laga Brasil vs Maroko bahkan mencetak rekor pendapatan makanan dan minuman tertinggi sejak Super Bowl 2014.
“Amerika Serikat sudah siap dan ahli dalam menyelenggarakan acara besar,” Lasry menambahkan.
Namun, langkah FIFA menjual potongan rumput stadion sebagai suvenir menuai kritik. Dengan harga mulai US$450 hingga US$3.000, produk tersebut dinilai berlebihan.
“FIFA harus keluar dari ‘lapangan’ kami, secara harfiah,” kata Politisi New Jersey Michael Inganamort.
Di sisi lain, harga tiket final masih tergolong sangat tinggi. Meski turun 33% sejak 8 Juli, tiket termurah tetap di kisaran US$5.000–US$7.500, dengan rata-rata sekitar US$12.500, lebih mahal dari tiket Super Bowl.
Data CoStar menunjukkan okupansi hotel hanya naik 3% saat laga pembuka, lalu sedikit menurun pada hari pertandingan berikutnya. Namun, tarif kamar dan pendapatan hotel meningkat hampir 30% saat hari pertandingan di MetLife Stadium.
Dalam Fanatics Fest, CEO Fanatics Inc. Michael Rubin menilai dampak turnamen melampaui penjualan tiket.
“Antusiasme selama lebih dari 30 hari terakhir benar-benar luar biasa. Ini memberikan dorongan bagi sepak bola yang akan bertahan lama. Ini sangat besar bagi sepak bola global di Amerika,” kata dia.
Meski begitu, dampak jangka panjang terhadap Major League Soccer masih belum pasti. Dalam acara FIFA di New York, Trump mengaku awalnya ragu.
“Saya berkata, ‘Apa kalian gila? Kita bukan negara sepak bola.’ Ternyata, kita memang negara sepak bola,” kata Trump.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar