Periskop.id - Harga emas dunia anjlok tajam pada perdagangan Senin (13/7) waktu Amerika Serikat.

Harga emas bahkan sempat jatuh ke bawah level psikologis US$ 4.000 per ons troi setelah aksi jual besar-besaran terjadi di pasar.

Pelemahan tersebut dipicu lonjakan harga minyak yang meningkatkan kekhawatiran inflasi.

Kondisi itu membuat pasar kembali memperhitungkan peluang Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Harga emas spot ditutup turun 2,91% menjadi US$ 4.001,13 per ons troi pada perdagangan Senin (13/7) waktu Amerika Serikat. Sepanjang sesi, emas juga sempat menyentuh posisi terendah sejak 1 Juli.

Selain emas spot, kontrak emas berjangka AS juga ikut melemah. Nilainya ditutup turun 2,55% ke posisi US$ 65 per ons troi.

Mengutip Reuters, Presiden AS Donald Trump kembali mengumumkan penerapan blokade terhadap pengiriman kapal Iran melalui Selat Hormuz.

Pengumuman blokade terhadap Iran menjadi pemicu utama gejolak di pasar komoditas pada perdagangan tersebut. Dampaknya terlihat dari lonjakan harga minyak yang kemudian menekan harga logam mulia dan logam industri secara bersamaan.

Pengumuman tersebut langsung mendorong harga minyak dunia melonjak sekitar 9%. Lonjakan harga energi kemudian dinilai memicu kekhawatiran baru terhadap tekanan inflasi di pasar global.

Seiring meningkatnya risiko inflasi, pelaku pasar mulai menghitung peluang The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Bahkan, ekspektasi kenaikan suku bunga kembali ikut menguat.

Tekanan tidak hanya menimpa emas. Harga perak spot juga tercatat merosot 3,65% menjadi US$ 57,69 per ons.

Sementara itu, platinum turun 1,61% ke level US$ 1.603,85 per ons. Adapun harga paladium ikut terkoreksi 2,15% menjadi US$ 1.252,85 per ons.