periskop.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan harga BBM non-subsidi, termasuk Pertamax, akan ikut turun jika harga minyak mentah dunia terus melemah. Kepastian itu disampaikan seiring pelemahan minyak global ke level terendah dalam tiga bulan terakhir.
Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia menegaskan, BBM non-subsidi mengikuti mekanisme pasar sehingga pergerakan harga minyak mentah dunia berdampak langsung terhadap harga jual dalam negeri. Penyesuaian harga, menurutnya, merupakan konsekuensi dari penerapan harga keekonomian pada produk BBM non-subsidi.
"Nah apakah bisa turun? Pasti. Ketika harga minyak dunia turun, sudah bisa dipastikan harga BBM non-subsidi juga akan turun. Begitu juga sebaliknya, ketika harga minyak dunia mengalami kenaikan, mau tidak mau harga BBM non-subsidi harus menyesuaikan dengan harga keekonomiannya," ujar Dwi di Kantor Bakom, Jakarta, Rabu (17/6).
Pelemahan harga minyak global dipicu kesepakatan perdamaian antara Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Agustus 2026 pada Rabu (17/6) pukul 11.45 WIB terkoreksi 16 sen atau 0,2% menjadi US$78,80 per barel. Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli 2026 juga melemah 25 sen atau 0,3% ke posisi US$75,80 per barel.
Dwi juga menyinggung konteks kenaikan BBM non-subsidi yang lebih dulu terjadi di negara-negara kawasan. Ia menilai kondisi Indonesia sebenarnya tidak jauh berbeda dari tren regional.
"Namun balik lagi, kita tahu kondisi saat ini kenaikan harga BBM non-subsidi ini memang sudah berlangsung. Kalau kita bicara negara-negara kawasan di tetangga sudah jauh lebih dulu mengalami kenaikan, penyesuaian," tuturnya.
Perihal harga Pertamax, Dwi mengungkapkan Presiden Prabowo Subianto sempat berupaya mempertahankan stabilitas ekonomi sekaligus menjaga daya beli masyarakat. Kebijakan itu membuat Pertamax menjadi satu-satunya BBM non-subsidi yang tidak langsung menyesuaikan harga saat gejolak minyak dunia melanda. Namun akhirnya harga Pertamax tetap dinaikkan menjadi Rp16.250 per liter.
"Tapi seiring berjalannya waktu, fluktuasi harga yang semakin dinamis, ini para pelaku usaha mau tidak mau harus menyesuaikan dengan harga keekonomian. Jadi kalau ditanya akan turun enggak harga minyak dunia turun, pasti akan ada penyesuaian juga untuk penurunan harga BBM non-subsidi," imbuh Dwi.
Per 17 Juni 2026, harga BBM di seluruh SPBU masih sama dengan posisi terakhir pada 10 Juni 2026. Pertamina saat itu menaikkan Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter, serta Pertamax Green 95 (RON 95) dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.
Sementara itu, Pertamax Turbo bertahan di Rp20.750 per liter, Dexlite Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex Rp24.800 per liter. BBM subsidi tidak mengalami perubahan, dengan Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Biosolar Rp6.800 per liter.
Kenaikan serupa juga terjadi di SPBU swasta. Harga BP 92 kini Rp16.670 per liter, naik dari sebelumnya Rp12.390, sedangkan BP Ultimate menjadi Rp17.240 per liter dari Rp12.930. BP Ultimate Diesel tidak berubah di Rp25.060 per liter. Di SPBU VIVO, Revvo 92 kini dibanderol Rp16.670 per liter dan Revvo 95 menjadi Rp17.240 per liter.
Besaran penurunan harga BBM non-subsidi ke depan, menurut Dwi, tetap bergantung pada seberapa jauh pergerakan harga minyak global dan mekanisme harga keekonomian yang berlaku bagi masing-masing pelaku usaha di sektor ini.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar