Periskop.id - Kota Nagasaki, Jepang, memperingati 81 tahun serangan bom atom Amerika Serikat pada Minggu (9/8), ketika dunia kembali menghadapi peningkatan risiko nuklir, modernisasi persenjataan, dan perdebatan mengenai penggunaan senjata atom sebagai alat deterensi.

Warga mengheningkan cipta pada pukul 11.02 waktu setempat, tepat ketika bom plutonium berjuluk "Fat Man" meledak di atas Nagasaki pada 9 Agustus 1945. Serangan itu terjadi tiga hari setelah Hiroshima dibom dan menjadikan Nagasaki sebagai lokasi terakhir di dunia yang mengalami serangan senjata nuklir dalam perang. Sekitar 74.000 orang diperkirakan meninggal hingga akhir 1945.

Dalam Deklarasi Perdamaian Nagasaki 2026, Wali Kota Shiro Suzuki memperingatkan ketergantungan terhadap senjata nuklir justru meningkatkan risiko perang atom. Pemerintah kota mencatat lebih dari 12.000 hulu ledak nuklir masih ada di dunia, sementara modernisasi dan penguatan arsenal terus berlangsung.

Suzuki menegaskan senjata nuklir tidak bisa dipandang sebagai alat keamanan yang dapat hidup berdampingan dengan manusia. “Senjata nuklir bukanlah 'kejahatan yang tak terelakkan', melainkan 'kejahatan mutlak', dan tidak akan pernah bisa berdampingan dengan umat manusia,” kata Suzuki dalam deklarasi perdamaian.

Deterensi Nuklir Kembali Diperdebatkan

Peringatan tahun ini berlangsung ketika konsep deterensi nuklir kembali menguat dalam kebijakan keamanan sejumlah negara. Perang di Ukraina, konflik di Timur Tengah, ketegangan di Asia Timur, serta modernisasi arsenal negara-negara berkekuatan nuklir menjadi kekhawatiran utama Nagasaki.

Suzuki menilai semakin besar negara menggantungkan keamanan pada deterensi nuklir, semakin besar pula risiko salah perhitungan dan eskalasi yang dapat berujung pada penggunaan senjata tersebut. Ia juga menyerukan negara-negara pemilik senjata nuklir memenuhi kewajiban pelucutan senjata berdasarkan Traktat Non-Proliferasi Nuklir atau NPT.

Kekhawatiran itu diperkuat kegagalan Konferensi Peninjauan NPT 2026 di New York. Setelah empat pekan perundingan pada 27 April hingga 22 Mei, negara-negara peserta gagal mencapai konsensus mengenai dokumen akhir. Ini menjadi kegagalan ketiga berturut-turut setelah konferensi 2015 dan 2022.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres turut memperingatkan risiko salah perhitungan dan konflik nuklir terus meningkat dari tahun ke tahun. Dalam pesan yang dibacakan pada peringatan Nagasaki, ia menekankan bahwa keamanan antarnegara saling bergantung dan senjata nuklir justru memperbesar ketidakpastian.

Jepang Hadapi Perdebatan Prinsip Non-Nuklir

Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi menghadiri upacara tersebut setelah tiga hari sebelumnya mengikuti peringatan serupa di Hiroshima. Pemerintahannya menghadapi sorotan mengenai masa depan Tiga Prinsip Non-Nuklir Jepang, yakni tidak memiliki, tidak memproduksi, dan tidak mengizinkan masuknya senjata nuklir ke wilayah negara itu.

"Bencana yang terjadi 81 tahun lalu di Nagasaki dan Hiroshima tidak boleh terulang lagi. Negara kita berpegang teguh pada Tiga Prinsip Non-Nuklir dan—sejalan dengan janji 'Biarlah Nagasaki tetap menjadi lokasi terakhir pengeboman atom'—sebagai satu-satunya negara yang menjadi sasaran pengeboman selama perang, terus melakukan upaya yang realistis dan praktis untuk mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir," kata Takaichi.

Namun, perdebatan belum berakhir. Takaichi sebelumnya pernah membuka kemungkinan peninjauan terhadap salah satu prinsip tersebut, khususnya larangan membawa senjata nuklir ke wilayah Jepang, ketika pemerintah menyusun ulang dokumen strategi pertahanan dan keamanan. Jepang sendiri tetap berada di bawah payung nuklir Amerika Serikat.

Kondisi tersebut menciptakan dilema bagi Tokyo. Di satu sisi, Jepang membawa identitas sebagai satu-satunya negara yang pernah mengalami serangan nuklir dalam perang. Di sisi lain, perubahan lingkungan keamanan regional mendorong sebagian kalangan mempertanyakan apakah kebijakan non-nuklir lama masih memadai.

Waktu Hibakusha Semakin Terbatas

Peringatan 81 tahun juga dibayangi semakin berkurangnya jumlah penyintas bom atom atau hibakusha. Data terbaru menunjukkan hanya sekitar 91.105 hibakusha yang masih tercatat secara resmi, dengan usia rata-rata telah melampaui 86 tahun. 

Kondisi itu membuat upaya mewariskan kesaksian langsung mengenai Hiroshima dan Nagasaki semakin mendesak. Suzuki dalam deklarasinya mengatakan dunia kini berada pada masa kritis karena masih memiliki kesempatan mendengar langsung pengalaman para korban. Nagasaki berkomitmen meneruskan memori tersebut kepada generasi berikutnya agar tragedi serupa tidak terulang.

Serangan Amerika Serikat terhadap Hiroshima pada 6 Agustus 1945 diperkirakan menewaskan sekitar 140.000 orang hingga akhir tahun. Tiga hari kemudian, bom kedua dijatuhkan di Nagasaki dan menewaskan sekitar 74.000 orang. Jepang menyerah kepada Sekutu pada 15 Agustus 1945, mengakhiri Perang Dunia II.

Delapan dekade kemudian, pesan Nagasaki menghadapi tantangan baru. Ketika negara-negara kembali mengandalkan deterensi dan mempermodern arsenal mereka, peringatan 81 tahun bukan lagi sekadar mengenang tragedi 1945, tetapi menjadi peringatan bahwa senjata nuklir tetap menjadi ancaman nyata bagi keamanan dunia.