Periskop.id – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Bali menyatakan, investasi di Pulau Dewata tetap menarik meski gejolak geopolitik global terus berlangsung, didorong oleh insentif pemerintah dan keunggulan Bali sebagai destinasi wisata internasional.
“Kinerja investasi Bali terus menguat di tengah ketidakpastian global,” kata Kepala BI Bali, Achris Sarwani, di Denpasar, Selasa (9/6).
Bersama Pemerintah Provinsi Bali, BI telah menyusun katalog investasi berisi 22 proyek infrastruktur potensial, termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur, proyek penerangan jalan, dan pengadaan kendaraan listrik.
Menurut data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi penanaman modal asing (PMA) dan dalam negeri (PMDN) di Bali mencapai Rp42,82 triliun pada 2025, naik 17,85% dibanding tahun sebelumnya, dengan menyerap lebih dari 68 ribu tenaga kerja. Namun, investasi masih terkonsentrasi di Bali Selatan (88%) dan sebagian besar di sektor tersier (97%). Kabupaten Badung memimpin dengan Rp22,21 triliun, diikuti Denpasar Rp10,61 triliun, Gianyar Rp4,96 triliun, dan Tabanan Rp2,04 triliun.
Tiga sektor teratas adalah real estat, penyediaan akomodasi, dan jasa makan/minum. Lima negara asal investor terbesar antara lain Australia (Rp3,89 triliun), Singapura dan Rusia (masing-masing Rp3 triliun), Prancis (Rp1,95 triliun), dan Belanda (Rp1,41 triliun).
Achris menekankan perlunya diversifikasi investasi agar merata antarwilayah dan sektor ekonomi. Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Bali pada 2026 tetap solid, di kisaran 5,4–5,9%.
“Dengan outlook ekonomi yang tetap kuat, inflasi terkendali, optimisme pelaku usaha solid, dukungan insentif pemerintah, serta daya saing Bali yang tinggi, peluang investasi di Bali semakin terbuka,” imbuhnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar