Periskop.id - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyampaikan, anak-anak lebih rentan terkena paparan mikroplastik dan logam berat seperti timbal dari lingkungan.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI Dr. dr. Irene Yuniar, Sp.A, Subsp ETIA(K) dalam acara yang diadakan oleh IDAI di Jakarta Senin (4/6) mengatakan, anak-anak bisa kena paparan mikroplastik dan logam berat dari air, udara, dan tanah.
Karena kondisi dan perilaku mereka, dia mengatakan, anak-anak lebih rentan kena paparan mikroplastik maupun logam berat dibandingkan dengan orang dewasa.
"Anak-anak itu masih berkembang, berat badannya lebih kecil, dan sering memasukkan macam-macam ke mulut," kata dr. Irene, yang bekerja di Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia – Rumah Sakit Umum Pusat Nasional dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta.
Ia mengemukakan, anak-anak rentan kena paparan zat berbahaya seperti mikroplastik dan timbal dari lingkungan sekitar mereka, antara lain dari tempat bermain. "Paparan timbal banyak dari cat yang terkelupas, tanah, juga dari lingkungan bermain anak," serunya.
Anak-anak juga lebih berisiko terkena dampak paparan zat berbahaya seperti mikroplastik dan logam berat, karena kemampuan tubuhnya untuk menetralisir zat berbahaya belum optimal. "Kemampuan detoksifikasi anak tidak sekuat orang dewasa," ucap dr. Irene.
Menurut dia, paparan zat berbahaya bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan pada anak. "Bisa sampai gangguan saraf, anemia, keterlambatan tumbuh, bahkan gangguan ginjal," katanya.
Dalam jangka panjang, ia mengatakan, paparan zat berbahaya seperti mikroplastik dan logam berat bisa mempengaruhi kemampuan kognitif anak. "Kemampuan belajar bisa berkurang, konsentrasi terganggu, bahkan bisa sampai penurunan IQ," tuturnya.
ASI dan Janin
Asal tahu saja, belakangan mikroplastik menjadi salah satu ancaman yang diam-diam masuk ke dalam tubuh. Mengutip Hindustan Times, keberadaan mikroplastik sempat diketahui terdeteksi dalam ASI dan jaringan janin hingga muncul dalam sel kanker.
Ahli gastroenterologi dan pembuat konten kesehatan yang berbasis di Florida, dr. Joseph Salhab mengatakan, partikel-partikel mikroplastik bahkan telah ditemukan di sel-sel kanker. Bahkan usus besar ditemukan memiliki kadar mikroplastik yang lebih tinggi di dalamnya dibandingkan dengan jaringan di sekitarnya.
Ia pun memperingatkan agar tidak menggunakan wadah penyimpanan makanan berbahan plastik, karena dapat meningkatkan paparan mikroplastik. Terutama jika digunakan untuk menyimpan atau memanaskan kembali makanan panas.
"Singkirkan wadah penyimpanan makanan plastik. Simpan makanan dalam wadah kaca, silikon, atau baja tahan karat sebagai gantinya, dan hindari memanaskan makanan dalam wadah plastik," tuturnya.
Termasuk mengurangi penggunaan peralatan dapur berbahan plastik seperti talenan, plastik pembungkus makanan, dan peralatan makan yang sudah usang.
Ia juga merekomendasikan untuk beralih ke air keran yang telah disaring. Jika perlu, ia menyarankan untuk merebus air terlebih dahulu dan kemudian menyimpannya dalam wadah kaca atau baja tahan karat untuk meminimalkan paparan mikroplastik.
Kemudian menyiapkan makanan sendiri juga meminimalisasi ketergantungan makanan kemasan. Lebih lanjut, alat pembersih udara HEPA dan penyedot debu, juga menurutnya efektif menjebak partikel halus dan meminimalkan penumpukan debu rumah tangga di dalam ruangan.
Salhab juga menyoroti, beberapa kantong teh mungkin mengandung lapisan plastik, yang dapat melepaskan mikroplastik saat terkena air panas. Karena itu, ia merekomendasikan untuk beralih ke teh daun lepas (teh tubruk) dan menyeduhnya dengan penyaring teh dari baja tahan karat, atau memilih opsi bebas plastik seperti kantong teh katun.
Tinggalkan Komentar
Komentar