Periskop.id - BPJS Kesehatan menyoroti penyakit diabetes melitus hingga hipertensi di usia muda yang kini semakin meningkat. Kondisi ini menjadi salah satu faktor peningkatan pembiayaan penyakit katastropik yang kini mencapai 25% dari total anggaran layanan kesehatan.

"Kasus penyakit kronis seperti diabetes melitus dan hipertensi kini mulai banyak ditemukan pada kelompok usia muda. Kondisi ini dapat memperberat pembiayaan jangka panjang jika tidak diimbangi upaya promotif dan preventif," kata Direktur Utama BPJS Kesehatan Prihati Pujowaskito dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi IX DPR RI di Jakarta, Rabu (8/4). 

Ia mengemukakan, secara keseluruhan, realisasi biaya manfaat pada tahun 2025 meningkat sebesar 11% dibandingkan tahun 2024. Namun, tingginya pembiayaan itu juga sejalan dengan meningkatnya pemanfaatan layanan. 

Tercatat sekitar 1,9 juta peserta mengunjungi fasilitas kesehatan mitra BPJS setiap hari, dengan kunjungan rumah sakit meningkat lima kali lipat dibandingkan tahun 2014.

Menariknya, tingkat pemanfaatan layanan oleh peserta PBI lebih tinggi dibandingkan non-PBI, yang menunjukkan program JKN lebih banyak membantu masyarakat miskin. Namun, BPJS juga mencatat tiga keluhan utama peserta, yakni kesulitan akses layanan, ketersediaan obat, serta sikap petugas administrasi dan tenaga kesehatan.

"Untuk menjawab tantangan tersebut, BPJS Kesehatan akan fokus pada peningkatan layanan digital, transparansi antrean, serta kepastian layanan di fasilitas kesehatan. Penguatan transformasi digital dan sistem data komprehensif menjadi strategi utama untuk meningkatkan kualitas layanan sekaligus menekan biaya jangka panjang," ucap Pujo.

Pujo juga menyebutkan, jumlah peserta nonaktif JKN kini tercatat sebanyak 58,32 juta peserta yang disebabkan dari berbagai factor. Karena itu, lanjutnya, penguatan validitas data peserta menjadi salah satu hal yang terus dioptimalkan.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 13,48 juta jiwa tidak aktif karena menunggak iuran, sementara 44,84 juta jiwa berasal dari penonaktifan peserta Penerima Bantuan Iuran (PBI) dan peserta yang dibiayai pemerintah daerah. “Pemutakhiran data dua bulan terakhir juga berdampak pada penonaktifan sekitar 11 juta peserta yang sebagian beralih menjadi peserta mandiri," tuturnya.

Ia menjelaskan, rendahnya kepatuhan pembayaran iuran terutama terjadi pada peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) atau sektor informal karena kemauan membayar yang masih rendah serta kemampuan finansial yang tidak stabil.

Kurang Mikronutrien
Terkait dengan diabetes, para peneliti di India menyebut, sebagian besar penderita diabetes kurang mengonsumsi makanan-makanan yang mengandung mikronutrien seperti vitamin, mineral, dan vitamin D.

Dalam siaran Eating Well, Minggu (5/4) waktu setempat, sebelumnya banyak penelitian dan pedoman soal diabetes berfokus pada pembahasan seputar makronutrien yang mencakup karbohidrat, lemak dan protein. Namun, peneliti di India ingin mengetahui lebih lanjut terkait hubungan antara diabetes dan mikronutrien.

Para peneliti akhirnya mendapatkan 132 studi dengan total 52.501 partisipan untuk tinjauan dan meta-analisis ini. Partisipan adalah pria dan wanita dari berbagai etnis yang berusia minimal 18 tahun dengan diabetes tipe 2, dengan atau tanpa komplikasi.

Studi-studi tersebut mencakup informasi tentang status mikronutrien partisipan termasuk apakah mereka kekurangan vitamin dan mineral tertentu berdasarkan hasil pemeriksaan darah mereka. Semua studi dipublikasikan antara tahun 1998 dan 2023 dan berasal dari berbagai negara, memberikan perspektif global kepada para peneliti.

Terdapat beberapa temuan dari tinjauan dan meta-analisis ini, di antaranya lebih dari 45% populasi penderita diabetes tipe 2 mengalami defisiensi mikronutrien ganda. Kemudian, 40% peserta dengan komplikasi diabetes mengalami defisiensi mikronutrien.

Ada juga temuan wanita lebih mungkin terkena defisiensi mikronutrien daripada pria, defisiensi vitamin D adalah defisiensi yang paling umum, dengan prevalensi lebih dari 60% di antara penderita diabetes tipe 2. Lalu, magnesium menempati peringkat kedua sebagai defisiensi yang paling umum, dengan sekitar 42% penderita diabetes tipe 2 mengalami defisiensi magnesium.

Pada subkelompok penderita diabetes yang mengonsumsi metformin, obat diabetes umum, defisiensi vitamin B12 ditemukan pada hampir 29% peserta. Para peneliti tidak dapat mengatakan apakah mikronutrien mungkin berperan dalam perkembangan diabetes pada orang-orang ini.

Vitamin D
Mereka hanya dapat menyimpulkan, ada semacam korelasi antara diabetes tipe 2 dan kekurangan mikronutrien, termasuk vitamin D dan B12 serta magnesium.

Dalam kehidupan sehari-hari, dikarenakan kekurangan mikronutrien umum terjadi pada penderita diabetes tipe 2, penderita dapat mengonsumsi vitamin B12 ditemukan dalam produk hewani, seperti daging, ikan, dan susu. Sereal yang diperkaya, susu nabati, dan ragi nutrisi adalah sumber vitamin B12 nabati.

Dari sisi vitamin D sebenarnya bisa didapat dari sinar matahari, tapi ada beberapa makanan yang boleh dikonsumsi seperti kuning telur, beberapa jamur, minyak hati ikan kod, hati sapi, dan ikan berlemak, seperti salmon, tuna, dan ikan todak. Makanan lain yang diperkaya dengan vitamin D, termasuk susu sapi, keju, yogurt, susu kedelai, jus jeruk, dan sereal.

Magnesium juga terdapat dalam kacang-kacangan, biji-bijian, selai kacang dan biji-bijian, kedelai, polong-polongan, buah-buahan, dan sayuran. Jika anda pencinta cokelat, anda akan senang mengetahui bahwa cokelat hitam merupakan sumber magnesium yang kaya. 

Para peneliti bahkan telah menghubungkan konsumsi rutin sedikit cokelat hitam, tetapi bukan cokelat susu atau cokelat putih dengan risiko diabetes tipe 2 yang lebih rendah. Selain itu, tambahkan kacang-kacangan ke cokelat hitam untuk meningkatkan asupan magnesium.

Jika diet anda lebih berpusat pada makanan dan minuman ultra-olahan dan tinggi gula tambahan, kemungkinan besar anda tidak mendapatkan cukup beberapa mikronutrien. Tetapi bagi banyak orang, mengubah diet secara total sekaligus terlalu berat.

Sebagai gantinya, pilih satu atau dua makanan yang dimakan setiap hari atau hampir setiap hari dan ganti dengan makanan utuh atau sesuatu yang mengandung lebih sedikit gula, natrium, atau lemak jenuh.

Misalnya, jika meminum soda setiap hari, ganti salah satu soda harian dengan air putih. Jika terbiasa mengonsumsi sesuatu dengan banyak tambahan gula atau kafein untuk menambah energi di sore hari, cobalah mengonsumsi sesuatu yang bergizi sebagai gantinya, seperti segenggam kacang dan sepotong cokelat hitam atau keju dan sepotong buah.