Periskop.id - Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengungkapkan, Indonesia masih menghadapi ancaman serius di sektor Kesehatan. Salah satu penyebabnya adalah tingginya jumlah anak yang belum pernah menerima imunisasi dasar atau masuk kategori zero dose.
Kementerian Kesehatan mencatat terdapat sekitar 2,3 juta anak Indonesia yang belum menerima satu pun dosis imunisasi dasar sepanjang 2025. "Munculnya kasus campak dan sejumlah penyakit menular lain menunjukkan masih adanya celah perlindungan imunisasi di masyarakat," ujar Wamenkes Dante saat kunjungan lapangan tematik di Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/5).
Menurut Dante, capaian imunisasi nasional yang saat ini berada di angka 80% masih belum cukup untuk membentuk herd immunity atau kekebalan kelompok. Pemerintah menargetkan minimal 90% cakupan imunisasi agar penyebaran penyakit menular dapat ditekan secara optimal.
Wamenkes menilai, tingginya angka anak zero dose dipicu maraknya informasi keliru terkait vaksin yang beredar di masyarakat, terutama melalui media sosial. Ia menyebut, sebagian orang tua masih percaya vaksin dapat menyebabkan autisme, padahal klaim tersebut telah dibantah melalui berbagai penelitian ilmiah global.
"Isu yang tidak tepat itu antara lain imunisasi menyebabkan autis dan ternyata dari studi empiris yang dilakukan pada jutaan orang di seluruh dunia tidak pernah ada efek samping tersebut," cetusnya.
Selain hoaks kesehatan, isu agama juga masih menjadi tantangan dalam pelaksanaan imunisasi nasional. Dante menjelaskan salah satu contoh isu yang sering muncul ialah penggunaan tripsin babi dalam proses pengembangan vaksin campak.
Namun, ia menegaskan unsur tersebut sudah tidak terdapat pada produk akhir vaksin yang digunakan masyarakat. "Dan ini sudah diuji oleh MUI, yang hasilnya vaksin campak ini sudah sama sekali tidak mengandung unsur yang berasal dari tripsin babi itu," ucap Dante.
Khawatir KLB
Dante mengingatkan, penurunan kecil saja dalam cakupan imunisasi dapat memicu kejadian luar biasa (KLB) penyakit menular seperti campak, polio, dan difteri. Karena itu, pemerintah meminta keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk mempercepat vaksinasi anak zero dose.
"Kalau kita tidak melakukan imunisasi secara cepat pada zero dose ini, maka ini akan menjadi masalah di kemudian hari. Turun sedikit saja (tingkat vaksinasi), langsung timbul KLB. Siapa yang berperan, yang berperan adalah ibu-ibu di posyandu, pemda, media massa, dan pemuka agama," tutur Wamenkes.
Ia menilai, Posyandu, pemerintah daerah, media massa, hingga tokoh agama memiliki peran penting dalam melawan hoaks vaksin dan meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap imunisasi.
Dalam kesempatan tersebut, Wamenkes mengapresiasi Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang berhasil menurunkan jumlah anak zero dose secara signifikan dalam satu tahun terakhir. Jumlah anak yang belum pernah divaksin di Jawa Barat turun dari sekitar 102 ribu menjadi 67 ribu anak.
"Penurunannya hampir 40 ribu anak. Ini capaian yang luar biasa. Bandung memiliki peluang besar menjadi contoh nasional melalui inovasi pelayanan kesehatan dan penguatan Posyandu," lanjutnya.
Kementerian Kesehatan sebelumnya juga melaporkan penguatan imunisasi nasional kini difokuskan untuk menjangkau anak-anak zero dose di berbagai wilayah, terutama daerah padat penduduk dan kawasan dengan tingkat penolakan vaksin yang masih tinggi.
Data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, imunisasi berhasil menyelamatkan jutaan nyawa setiap tahun dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah. Di Indonesia, program imunisasi dasar meliputi vaksin campak, polio, DPT, hepatitis B, hingga BCG untuk mencegah tuberkulosis.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, tren penolakan vaksin dan penyebaran hoaks kesehatan disebut ikut memengaruhi penurunan cakupan imunisasi di sejumlah daerah. Kementerian Kesehatan sendiri terus memperkuat edukasi publik terkait vaksin melalui Posyandu, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga kampanye digital.
Dante juga meminta media massa ikut aktif menjadi benteng informasi kesehatan yang akurat agar masyarakat tidak mudah terpengaruh informasi menyesatkan di media sosial. Menurutnya, imunisasi bukan hanya perlindungan individu, tetapi investasi jangka panjang untuk menjaga kualitas generasi masa depan Indonesia.
Tinggalkan Komentar
Komentar