Periskop.id - Peneliti Pusat Riset Mikrobiologi Terapan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Ekowati Chasanah mengungkapkan, ikan gabus (Channa striata) memiliki profil gizi unggulan. Di antaranta protein berkualitas yang mudah dicerna, serta senyawa bioaktif yang mendukung kesehatan. 

Dalam keterangan di Jakarta, Rabu (22/4), Ekowati menerangkan, ikan gabus sangat relevan untuk memenuhi kebutuhan gizi, khususnya bagi anak-anak dan individu dalam masa pemulihan. Kandungan asam amino yang lengkap baik esensial maupun non-esensial menjadikan ikan ini unggul dibandingkan banyak sumber protein lainnya. 

Salah satu komponen kunci yang menjadi sorotan, menurutnya adalah albumin, protein plasma yang berperan penting dalam menjaga keseimbangan cairan tubuh dan membantu transportasi zat penting seperti hormon. Kandungan albumin yang tinggi, bersama asam amino seperti glisin, prolin, dan alanin, memberikan manfaat signifikan dalam mendukung proses penyembuhan luka serta pemulihan pascaoperasi. 

"Kombinasi kandungan albumin dan zat gizi lain pada ikan gabus berpotensi mendukung proses penyembuhan luka, menjaga keseimbangan cairan tubuh, serta membantu meningkatkan kondisi kesehatan secara umum," tuturnya.

Ekowati juga memaparkan, ikan gabus mengandung berbagai senyawa bioaktif, seperti peptida bioaktif, asam lemak, dan mikronutrien, yang berpotensi memberikan efek tambahan, termasuk antihipertensi. Hal ini memperluas peran ikan gabus tidak hanya sebagai sumber nutrisi, tetapi juga sebagai bahan baku produk kesehatan berbasis pangan. 

Namun, menurutnya, kualitas nutrisi tersebut sangat dipengaruhi oleh penanganan pascapanen. Ia menekankan pentingnya metode pengolahan yang tepat, seperti pemanasan tidak langsung, untuk menjaga stabilitas kandungan gizi dan senyawa aktif. Standardisasi berbasis riset menjadi kunci agar produk turunan tetap berkualitas tinggi.

Dalam konteks inovasi, Ekowati menilai ikan gabus memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi berbagai produk pangan fungsional. Mulai dari ekstrak albumin hingga produk olahan siap konsumsi.

"Dari sisi ekonomi, hilirisasi ikan gabus berpotensi memperkuat industri pangan lokal dan mendukung kemandirian pangan nasional," ujarnya.

Pemanfaatan optimal sumber daya lokal dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor, sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Meski demikian, Ekowati menekankan, pengembangan ini membutuhkan dukungan riset berkelanjutan. Termasuk inovasi teknologi pengolahan, standardisasi mutu, serta pengujian keamanan dan efektivitas produk.

Penyembuhan Luka
Selain asupan gizi yang tinggi, ikan gabus atau yang dikenal dengan nama ilmiah channa striata memiliki kandungan yang baik bagi tubuh terutama dalam kondisi luka, seperti asam amino, asam lemak, asam arakidonat, asam lemak tak jenuh ganda, dan asam dokosaheksaenoat.

salah satu nutrisi penting yang berperan besar dalam proses penyembuhan luka yang optimal adalah protein yang membantu pembentukan kapiler, proliferasi fibroblas, sintesis proteoglikan, sintesis kolagen, dan remodeling luka.

CEO Digdaya dr. Diaz, Sp.BA mengungkapkan, kandungan ikan gabus dapat membantu proses penyembuhan luka menjadi lebih cepat. Pertama, ikan gabus kaya akan protein, asam amino, asam lemak, dan nutrisi penting lainnya untuk memastikan kebutuhan energi tercukupi selamat proses penyembuhan luka terjadi. 

Asam amino pada ikan gabus juga telah diuji klinis dan berperan penting dalam proses penyembuhan luka. Contoh asam amino yang terkandung dalam ikan gabus adalah glisin, glutamin, dan arginin. 

Glisin adalah salah satu asam amino utama yang diperlukan untuk sintesis kolagen, protein utama dalam jaringan ikat di tubuh. Glutamin memainkan peran kunci dalam tahap peradangan dan tahap proliferasi penyembuhan luka, dan juga berfungsi sebagai bahan penting untuk memulihkan sel.

"Sedangkan arginin diketahui dapat merangsang penyembuhan luka dengan mengatur fungsi imun dan mempengaruhi fungsi endotel,” ujarnya.

Ikan ini juga bersifat antinosiseptif yang dapat mengurangi rasa nyeri. Antinosiseptif adalah kemampuan menurunkan sensitivitas terhadap rangsangan rasa sakit.

Channa striata telah teruji secara klinis menginduksi proliferasi sel, agregasi trombosit dan menunjukkan efek anti-nyeri sebanding dengan morfin dalam hal sifat anti-nyeri atau anti-nosiseptif. Pasien pasca operasi atau ibu pasca melahirkan secara normal atau melalui operasi Caesar, kerap dianjurkan untuk mengkonsumsi makanan yang mengandung ikan gabus.