periskop.id - Kinerja fiskal Indonesia dalam lima bulan pertama 2026 tercatat lebih sehat dari yang banyak diasumsikan publik. Defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga akhir Mei hanya menyentuh 0,7% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memaparkan, angka tersebut jauh dari batas maksimal defisit yang ditetapkan undang-undang, yakni 3% PDB. Keseimbangan primer pun sudah berada di zona positif, mencapai Rp58,6 triliun.

Advertisement

"Surplus keseimbangan primernya sekarang Rp58,6 triliun, sudah positif lagi. Artinya anggaran kita sekarang lebih berkesinambungan dibanding bulan-bulan sebelumnya," ujar Purbaya dalam Konferensi Pers APBNKita Edisi Juni 2026 di Jakarta, Jumat (5/6).

Keseimbangan primer yang positif menandakan penerimaan negara sudah mampu menutup seluruh belanja di luar pembayaran bunga utang. Angka ini naik signifikan dari posisi April yang hanya Rp28 triliun.

Purbaya menyebut, kondisi ini menepis narasi yang berkembang bahwa pengelolaan fiskal pemerintah tidak hati-hati. Realisasi belanja negara memang tumbuh ekspansif 34,4% secara tahunan, mencapai Rp1.365,4 triliun, namun diimbangi lonjakan penerimaan yang sama kuatnya.

Pendapatan negara tercatat tumbuh 19,1% hingga Mei, dengan penerimaan pajak memimpin di angka 22,1%. Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) juga ikut terkerek 19,9%.

Soal kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal, Purbaya menilai ada kesalahan baca data yang beredar luas. Defisit 0,9% di bulan Maret sempat dikalikan 4 oleh sejumlah analis, sehingga menghasilkan proyeksi 3,6% untuk akhir tahun.

"Mereka bilang fiskalnya berantakan. Padahal kalau kita lihat di sini, semua bagus," tegasnya. Purbaya menegaskan pemerintah tetap berkomitmen menjaga defisit di bawah 3% hingga akhir tahun.

Komitmen itu, menurutnya, juga datang langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Bahkan untuk tahun depan, Presiden disebut menginginkan defisit di kisaran 1,8% PDB.

Sebagai konteks, realisasi pembiayaan anggaran hingga Mei mencapai Rp399,4 triliun. Kas negara saat ini masih terjaga di level Rp513 triliun, memberi ruang fiskal yang cukup untuk akselerasi belanja hingga akhir tahun.

Purbaya juga menyinggung kemungkinan penyesuaian anggaran jika kondisi eksternal berubah drastis, misalnya lonjakan harga minyak dunia. Namun ia menegaskan skenario tersebut belum diperlukan saat ini.

"Kalau kita bereskan fundamentalnya, semuanya akan ikut beres. Kondisi fiskal amat baik," pungkas Purbaya.