periskop.id - Giselle, member aespa, mengungkap dirinya mengalami gejala Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Kondisi tersebut disebutnya kadang membuat ia tidak merasakan lapar, yang berdampak langsung pada perubahan berat badannya.

Pengakuan itu muncul menyusul kekhawatiran sejumlah penggemar yang menyoroti penampilannya yang terlihat semakin kurus. Giselle menerangkan, fluktuasi berat badan adalah hal yang lumrah dan sudah ia alami sejak lama.

Advertisement

"Menambah dan mengurangi berat badan itu wajar. Saya pernah menambah berat badan, dan saya pernah menurunkannya. Selama tujuh tahun terakhir, berat badan saya turun sekitar 10 kilogram. Segalanya berubah seiring bertambahnya usia," ujar Giselle dalam wawancara di kanal YouTube Yano Shiho, sebagaimana dilaporkan Korea Times, Selasa (9/6).

Ia kemudian mengejutkan penggemar dengan mengungkap kondisi medisnya. Giselle menyebut orang-orang terdekatnya selama ini sudah mengetahui kondisi tersebut, namun ia baru membicarakannya secara terbuka.

"Orang-orang yang mengenal saya dengan baik sudah tahu ini, tapi saya memiliki gejala ADHD, jadi terkadang saya bahkan tidak merasa lapar," katanya.

Meski begitu, Giselle menuturkan ia aktif berupaya menambah berat badan dan mendongkrak energinya. Ia mengakui stamina yang kurang optimal selama ini memang menjadi tantangan tersendiri, termasuk saat tampil di atas panggung.

"Saya pribadi merasa tidak punya cukup energi. Saya mencoba menambah berat badan. Sejujurnya, saya tidak pernah benar-benar memiliki stamina yang hebat," ungkapnya.

Di sisi lain, Giselle menyebut tengah menggemari pancake dan mengonsumsinya setiap hari. Ketika presenter Yano Shiho heran bagaimana ia bisa tetap kurus meski banyak makan karbohidrat, Giselle bercanda bahwa dietnya mungkin jadi penyebabnya. "Kurasa itu karena aku hanya makan karbohidrat," jawabnya sambil berkelakar.

ADHD sendiri merupakan gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh kesulitan berkonsentrasi, perilaku hiperaktif, dan impulsivitas. Psikolog Cecilia H.E., M.Psi. memaparkan, pada orang dewasa kondisi ini kerap memengaruhi produktivitas kerja, hubungan sosial, serta kemampuan mengatur emosi dan perilaku sehari-hari.

Gejala ADHD pada orang dewasa, menurut Cecilia, cenderung lebih kompleks dibanding pada anak-anak. Beberapa di antaranya mencakup mudah teralihkan saat berkonsentrasi, sering melupakan hal-hal penting, kecenderungan impulsif dalam mengambil keputusan, hingga kesulitan mengelola tanggung jawab.

Cecilia menambahkan, gejala ADHD umumnya mulai tampak sejak usia dini, yakni sekitar tiga tahun hingga masa prasekolah. Tanda-tanda tersebut biasanya baru terlihat lebih jelas ketika anak memasuki lingkungan sekolah, terutama pada usia 7 hingga 8 tahun saat perbedaan dengan teman sebaya mulai mencolok.

"Kondisi ini dapat terjadi pada anak-anak maupun orang dewasa, dengan gejala yang berbeda-beda pada setiap individu," kata Cecilia dalam keterangannya di laman EMC, Rabu (22/4).