Periskop.id - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) menyoroti fenomena janggal yang tengah terjadi dalam konsep pertumbuhan ekonomi nasional saat ini.
Melalui laporan bertajuk Monitoring Issue of Macroeconomics and Finance edisi Juni 2026, lembaga riset ini mengungkapkan bahwa meskipun tren angka realisasi investasi secara umum terus menunjukkan peningkatan, laju pertumbuhannya sebenarnya mengalami perlambatan signifikan.
Kondisi perlambatan tersebut kian mengkhawatirkan karena berjalan beriringan dengan penurunan drastis pada sisi penyerapan tenaga kerja di pasar domestik.
Berdasarkan data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), jumlah penyerapan tenaga kerja nasional tercatat anjlok dari angka 754.186 orang pada triwulan keempat 2025 menjadi hanya sebesar 706.569 orang pada triwulan pertama 2026.
Mengapa Investasi Tidak Ramah Terhadap Pekerja Lokal?
Merosotnya angka serapan kerja di tengah derasnya arus modal masuk memicu pertanyaan besar mengenai efektivitas investasi saat ini. INDEF memaparkan beberapa faktor utama yang menyebabkan iklim investasi di Indonesia tidak lagi ramah terhadap para pekerja.
- Terjebak dalam Sektor Padat Modal (Capital Intensive)
Investasi baru yang masuk ke Indonesia saat ini cenderung mengalami pergeseran ke sektor yang berteknologi tinggi dan padat mesin (capital intensive). Akibat pergeseran industri ini, proyek-proyek baru tidak lagi menyasar sektor padat karya yang sejatinya sangat dibutuhkan untuk menyerap banyak tenaga kerja lokal. - Investasi Boros Modal
Indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia terpantau masih berada dalam kondisi fluktuatif dan tinggi. Angka ICOR yang tinggi ini mencerminkan terjadinya inefisiensi atau pemborosan modal, di mana negara membutuhkan tambahan modal dalam jumlah yang jauh lebih besar hanya untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi.
Produktivitas Tenaga Kerja yang Tertinggal Jauh
Masalah struktural ekonomi ini semakin diperparah oleh potret produktivitas pekerja domestik yang dinilai masih tertinggal.
Jika melihat rekam jejak historis, tingkat produktivitas tenaga kerja di Indonesia mengalami kenaikan sekitar 16,3% dalam kurun waktu 10 tahun terakhir. Peningkatan tersebut tercatat bergerak dari angka Rp79,68 juta per tenaga kerja pada 2016 menjadi sebesar Rp92,67 juta per tenaga kerja pada 2025.
Meskipun terdapat grafik kenaikan, posisi daya saing pekerja Indonesia di kancah regional maupun global nyatanya masih sangat lemah.
Saat ini, level produktivitas tenaga kerja Indonesia masih tertahan di peringkat kelima di kawasan ASEAN, berada di bawah Singapura, Malaysia, Brunei, dan Thailand. Sementara untuk skala global, posisi efektivitas pekerja domestik berada di peringkat ke 111 dunia.
Pada akhirnya, rendahnya tingkat produktivitas ini turut andil dalam menggerus tingkat kepercayaan para investor asing untuk menanamkan modal jangka panjang mereka di Indonesia.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar