Periskop.id — Peluit panjang seharusnya menjadi tanda berakhirnya final Piala Dunia 2026. Bagi Spanyol, bunyi itu membuka pesta. Para pemain cadangan berhamburan menuju lapangan setelah Ferran Torres memastikan kemenangan 1-0 atas Argentina lewat gol pada menit ke-106.
Namun, di tengah selebrasi menuju gelar dunia kedua La Roja, emosi yang tertahan selama 120 menit justru meledak. Leandro Paredes terlibat bentrokan dengan Gavi dan Eric Garcia. Pemain lain berdatangan, dorongan berubah menjadi pergumulan, dan wasit Slavko Vincic kembali mengeluarkan kartu meski pertandingan telah berakhir.
Keributan tersebut berlangsung singkat. Reuters menyebutnya sebagai brief brawl, bukan perkelahian massal berkepanjangan. Namun, rekaman dan foto dari berbagai sudut memperlihatkan sejumlah tindakan yang berpotensi membawa konsekuensi lebih panjang daripada insidennya sendiri.
Berawal Saat Pemain Spanyol Berlari Merayakan Gelar
Kerumunan terbentuk beberapa detik setelah pertandingan berakhir. Pemain cadangan dan staf Spanyol memasuki lapangan untuk bergabung dengan rekan-rekannya. Pada saat yang sama, sebagian pemain Argentina masih berada di sekitar area tengah dengan kekecewaan yang belum mereda.
Laporan Reuters memastikan titik panas utama terjadi ketika Paredes mendorong Gavi hingga terjatuh. Foto yang menyertai laporan tersebut memperlihatkan gelandang Argentina itu berhadapan langsung dengan pemain Barcelona tersebut, sementara asisten pelatih Argentina Walter Samuel berada di dekat keduanya.
Sejumlah rekaman lain menunjukkan perselisihan kemungkinan telah dimulai beberapa detik sebelumnya. Paredes terlihat beradu mulut dan berdesakan dengan Eric Garcia. Dalam foto dan tayangan yang diberitakan Fox Sports, tangan Paredes tampak diarahkan ke bagian leher atau dada atas bek Spanyol itu sebelum situasi melebar dan Gavi ikut masuk ke tengah kerumunan.
Paredes kemudian bergumul dengan Gavi, menjatuhkannya ke lapangan dan mendorong bagian wajahnya. Beberapa tayangan juga memperlihatkan gerakan kaki Paredes ke arah pemain Spanyol tersebut, meski sudut kamera tidak sepenuhnya memastikan seberapa kuat kontak yang terjadi.
Dengan demikian, gambaran paling aman berdasarkan laporan yang tersedia adalah bahwa Paredes menjadi pusat sekaligus pemicu utama bentrokan. Perselisihannya dengan Eric Garcia berkembang menjadi kontak fisik dengan Gavi, lalu menarik pemain dan staf dari kedua tim ke lokasi kejadian.
Molina dan Almada Ikut Terseret dalam Kerumunan
Paredes bukan satu-satunya pemain Argentina yang terlihat dalam insiden tersebut. Thiago Almada berada sangat dekat dengan pergumulan Paredes dan Gavi. Keterangan foto Associated Press menyebut ketiganya berada dalam bentrokan yang sama, tetapi belum ada bukti jelas, Almada melayangkan pukulan atau menjadi pemicu awal.
Nama Nahuel Molina juga muncul setelah rekaman memperlihatkan seorang pemain Argentina mengayunkan lengan ke arah pemain cadangan Spanyol yang berlari menuju lapangan. Fox Sports mengidentifikasinya sebagai Molina dan menyebut gerakan itu tampak mengenai bagian perut lawan. The Guardian juga melaporkan seorang pemain Argentina memukul pemain cadangan Spanyol, tetapi tidak memastikan identitas penerima pukulan tersebut.
Karena sudut rekaman terbatas, tindakan Molina masih lebih tepat disebut sebagai dugaan daripada kesimpulan disipliner. Identitas pemain Spanyol yang diduga terkena gerakan tersebut juga belum diumumkan secara resmi.
Di kubu Spanyol, nama yang paling jelas terlibat adalah Gavi dan Eric Garcia. Keduanya berada di tengah kontak fisik dengan Paredes. Pemain Spanyol lain datang bersama staf untuk memisahkan pihak-pihak yang bertikai, tetapi belum ada laporan kredibel yang memastikan adanya pemain La Roja lain yang melakukan kekerasan.
Lionel Messi tidak terlihat sebagai bagian dari kelompok utama yang bertikai. Kapten Argentina itu kemudian tampak menangis setelah menerima medali perak dan menjalani momen yang jauh berbeda ketika berpelukan dengan Lamine Yamal.
Scaloni Justru Menjadi Penengah
Lionel Scaloni bergegas masuk untuk meredakan situasi. Reuters melaporkan pelatih Argentina tersebut membantu menenangkan pemain dan mencegah pertikaian berkembang lebih luas. Staf kedua tim kemudian memisahkan kelompok-kelompok kecil yang masih beradu argumen.
Peran Scaloni sebagai penengah menjadi kontras dengan pernyataannya dalam konferensi pers. Ia menekankan bahwa Argentina harus mampu menerima kekalahan setelah mengakui Spanyol tampil lebih baik.
“Kami hebat ketika menang dan harus demikian pula ketika kalah. Malam ini, kami menunjukkan bahwa kami tahu bagaimana menerima kekalahan. Kami kalah dan menerimanya,” kata Scaloni dalam terjemahan.
Ucapan tersebut mungkin menggambarkan sikap sebagian besar anggota tim, tetapi keributan Paredes menunjukkan tidak semua emosi dapat dikendalikan pada detik pertama setelah gelar juara terlepas.
Laga Sudah Berakhir, Mengapa Paredes Masih Bisa Dikartu Merah?
Slavko Vincic menjatuhkan kartu merah kepada Paredes setelah peluit akhir. Keputusan itu sah dan bukan sekadar hukuman simbolis.
Regulasi Piala Dunia 2026 menegaskan kewenangan disipliner wasit dimulai ketika ia memasuki lapangan untuk pemeriksaan sebelum pertandingan dan berakhir setelah meninggalkan lapangan seusai laga. Artinya, pemain masih dapat menerima kartu merah selama wasit dan perangkat pertandingan belum meninggalkan area permainan.
Aturan IFAB juga menyebut pemain yang menggunakan kekuatan berlebihan atau melakukan tindakan brutal ketika tidak sedang memperebutkan bola harus dikeluarkan karena violent conduct. Bahkan, percobaan melakukan kekerasan tetap dapat dihukum kartu merah meski tidak menghasilkan kontak sempurna.
Karena itu, Vincic tidak perlu menunggu FIFA melakukan pemeriksaan retrospektif untuk mengambil tindakan terhadap Paredes. Ia masih memiliki kewenangan langsung, melihat atau menerima informasi mengenai insiden tersebut dari perangkat pertandingan, lalu mengeluarkan kartu merah sebelum meninggalkan lapangan.
Kartu itu juga memastikan tindakan Paredes masuk dalam laporan resmi pertandingan. Menurut FIFA Disciplinary Code, fakta dalam laporan wasit dan perangkat pertandingan dianggap akurat sampai terdapat bukti yang menunjukkan sebaliknya. Proses disipliner dapat dibuka berdasarkan laporan tersebut, sementara Komite Disiplin FIFA berwenang menambah hukuman otomatis akibat kartu merah.
Paredes Terancam Absen Lebih dari Satu Pertandingan
Setiap pemain yang mendapat kartu merah di Piala Dunia otomatis dilarang tampil dalam pertandingan berikutnya. Karena final merupakan pertandingan terakhir, skorsing yang belum dijalani akan dibawa ke laga resmi Argentina selanjutnya.
Namun, Paredes berpotensi menerima hukuman lebih berat apabila insiden tersebut diklasifikasikan sebagai tindakan kekerasan.
FIFA Disciplinary Code menetapkan hukuman sekurang-kurangnya tiga pertandingan untuk violent conduct. Hukuman serupa, atau larangan selama periode tertentu, dapat diberikan untuk serangan seperti memukul, menendang, menyikut, menggigit, meludahi, atau melakukan kontak kekerasan terhadap lawan maupun orang lain. Denda juga dapat ditambahkan.
Artinya, Paredes tidak hanya terancam absen pada satu laga. Apabila laporan Vincic dan tayangan pertandingan dinilai membuktikan adanya pukulan, tendangan, atau tindakan mencekik, Komite Disiplin FIFA dapat memperpanjang skorsing menjadi sedikitnya tiga pertandingan atau lebih.
Sampai artikel ini disusun, Senin, 20 Juli 2026 siang WIB, belum ditemukan pengumuman resmi FIFA mengenai jumlah pertandingan yang harus dilewatkan Paredes.
Molina dan Pemain Lain Tetap Bisa Diperiksa
Tidak adanya kartu di lapangan bukan berarti pemain lain otomatis bebas dari pemeriksaan. FIFA Disciplinary Code memperbolehkan tindakan disipliner terhadap pelanggaran serius yang tidak terlihat oleh wasit maupun asistennya saat kejadian berlangsung. Komite Disiplin juga bertugas menjatuhkan hukuman atas insiden yang luput dari perhatian perangkat pertandingan.
Ketentuan tersebut membuat rekaman mengenai dugaan ayunan tangan Molina dapat diperiksa. Hal serupa berlaku terhadap Almada, Eric Garcia, Gavi, atau anggota tim lain apabila ditemukan bukti, mereka melakukan tindakan balasan yang melampaui upaya membela diri atau memisahkan pemain.
FIFA tidak harus menunggu pengaduan Spanyol. Regulasi turnamen menyatakan Komite Disiplin tetap dapat menindak pelanggaran atas inisiatif sendiri, termasuk setelah pertandingan final selesai.
Dalam praktiknya, komite akan menelaah laporan wasit, laporan perangkat pertandingan tambahan, rekaman siaran, foto, serta penjelasan pihak terkait. Fokusnya bukan menentukan kembali pemenang, melainkan mengidentifikasi siapa melakukan tindakan apa dan seberapa berat hukuman yang layak diberikan.
Gelar Spanyol Tidak Terancam
Keributan tersebut tidak mengubah hasil pertandingan. Spanyol tetap menang 1-0 dan sah menjadi juara dunia. Regulasi Piala Dunia menegaskan keputusan wasit mengenai fakta pertandingan bersifat final. Setelah final selesai, protes terkait hasil juga tidak lagi diterima, meskipun Komite Disiplin tetap dapat memproses pelanggaran individu.
Dengan kata lain, konsekuensi insiden ini akan berbentuk skorsing, denda, teguran, atau hukuman disipliner lain. Tidak ada dasar dari kejadian tersebut untuk membatalkan gol Ferran Torres, mengulang pertandingan, atau mencabut trofi Spanyol.
Bukan Perang Besar, tetapi Tetap Serius
Sebutan “perkelahian massal” mudah muncul karena puluhan orang berkumpul di satu area. Namun, bukti yang tersedia menunjukkan kontak fisik paling serius terkonsentrasi pada beberapa pemain dan berlangsung dalam waktu singkat sebelum Scaloni serta staf kedua tim memisahkan mereka.
Meski singkat, tindakan Paredes tetap serius. Pukulan atau upaya menyerang lawan setelah pertandingan tidak dapat dibenarkan sebagai bagian dari duel sepak bola, karena bola sudah tidak dimainkan dan tidak ada perebutan posisi.
Mantan kapten Inggris Alan Shearer mengecam tindakannya dengan mengatakan, “Tidak ada tempat atau ruang untuk tindakan seperti itu," serunya.
Final tersebut pada akhirnya memiliki dua penutup yang bertolak belakang. Beberapa meter dari keributan, Messi dan Yamal saling berpelukan dalam momen yang menggambarkan pergantian generasi. Di bagian lain lapangan, Paredes menerima kartu merah ketika Argentina masih mencoba mencerna hilangnya gelar.
Spanyol membawa pulang trofi. Argentina membawa pulang medali perak. Sementara bagi Paredes dan kemungkinan beberapa pemain lain, final belum benar-benar berakhir sampai Komite Disiplin FIFA menyelesaikan pekerjaannya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar