Periskop.id — Spanyol menutup Piala Dunia 2026 dengan dua pencapaian sekaligus. Selain mengangkat trofi untuk kedua kalinya, La Roja memperpanjang rekor menjadi 38 pertandingan tanpa kalah, catatan terpanjang dalam daftar tim nasional putra yang dirujuk FIFA.

Kemenangan 1-0 atas Argentina pada final di New York New Jersey Stadium menjadi laga ke-38 dalam rangkaian tersebut. Ferran Torres mencetak gol penentu pada menit ke-106 setelah pertandingan harus dilanjutkan ke babak perpanjangan waktu.

Tim asuhan Luis de la Fuente kini membukukan 29 kemenangan dan sembilan hasil imbang sejak 2024. Catatan itu melewati Italia yang sebelumnya tidak terkalahkan dalam 37 pertandingan pada periode Oktober 2018 hingga September 2021.

Hanya Sekali Ditahan Imbang di Piala Dunia

Sepanjang Piala Dunia 2026, Spanyol sebenarnya menjalani delapan pertandingan, bukan sembilan. La Roja mencatat tujuh kemenangan dan satu hasil imbang, yang terjadi saat ditahan Tanjung Verde tanpa gol pada pertandingan pembuka fase grup.

Setelah permulaan yang kurang meyakinkan tersebut, Spanyol memenangi tujuh pertandingan berikutnya hingga final. Mereka juga hanya kebobolan satu gol sepanjang turnamen, sekaligus mencetak rekor sebagai juara dunia dengan jumlah kemasukan paling sedikit.

Keunggulan Spanyol terlihat jelas pada final. Mereka menghasilkan 20 percobaan pertama dalam pertandingan sebelum Argentina menciptakan peluang pertamanya pada babak kedua perpanjangan waktu. Emiliano Martinez harus membuat 12 penyelamatan, rekor terbanyak oleh seorang kiper dalam final Piala Dunia, agar Argentina tetap bertahan hingga menit-menit akhir.

Statistik itu memperlihatkan bahwa rekor tak terkalahkan Spanyol bukan semata-mata dibangun melalui hasil tipis atau keberuntungan. Tim tersebut mampu mengendalikan bola, menekan sejak area lawan, dan membatasi kesempatan mencetak gol bagi siapa pun yang dihadapinya.

Rekor Dimulai Setelah Kalah dari Kolombia

Rangkaian panjang Spanyol bermula setelah mereka dikalahkan Kolombia 0-1 dalam pertandingan persahabatan di London pada Maret 2024. Sejak kekalahan itu, tidak ada tim yang mampu menundukkan La Roja dalam waktu normal maupun perpanjangan waktu.

Dalam perjalanannya, Spanyol bukan hanya mengalahkan tim-tim dengan peringkat lebih rendah. Sebelas pertandingan dalam rangkaian tersebut mempertemukan mereka dengan kekuatan seperti Brasil, Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belanda, dan Portugal.

Konsistensi itu juga berlanjut meski De la Fuente melakukan rotasi besar. Menjelang final Piala Dunia, ia tercatat telah menggunakan 62 pemain berbeda selama rangkaian tak terkalahkan. Namun, kerangka utama tim tetap terjaga melalui pemain seperti Marc Cucurella, Unai Simon, Aymeric Laporte, Lamine Yamal, dan Mikel Oyarzabal.

Spanyol tidak hanya memiliki satu susunan pemain utama yang kuat. Kedalaman skuad memungkinkan mereka mengubah pertandingan dari bangku cadangan, seperti yang terlihat ketika Ferran Torres dan Nico Williams menjadi penentu dalam final.

De la Fuente Soroti Persatuan Tim

De la Fuente menilai keberhasilan tersebut lahir dari kualitas individu yang berjalan bersama kekuatan kolektif. Pelatih berusia 65 tahun itu juga menjadi juru taktik tertua yang pernah membawa sebuah tim menjuarai Piala Dunia.

“Kami adalah tim yang paling bersatu dan itu berkat orang-orang yang memiliki solidaritas dan nilai-nilai,” kata De la Fuente.

Ia juga menyebut generasi pemain Spanyol saat ini mampu mempertahankan filosofi permainan yang telah dibangun sejak level usia muda, kemudian mengembangkannya menjadi lebih baik.

“Saya sangat bangga kepada generasi pemain ini yang tumbuh dengan filosofi tersebut, tetap setia kepadanya, membuatnya menjadi lebih baik, dan memberi contoh sebagai tim maupun keluarga. Mereka adalah pemain luar biasa, berkelas dunia, dengan bakat istimewa,” ujarnya. 

Rekor tersebut melengkapi keberhasilan De la Fuente membawa Spanyol menjuarai Euro 2024. Dalam waktu dua tahun, La Roja memenangkan dua turnamen terbesar yang dapat diraih tim nasional Eropa.

Ada Catatan soal Adu Penalti

Rekor 38 pertandingan Spanyol menghitung laga yang tidak berakhir dengan kekalahan selama waktu normal maupun perpanjangan waktu. Di tengah rangkaian tersebut, Spanyol sebenarnya pernah kalah dari Portugal melalui adu penalti pada final UEFA Nations League 2025.

Hasil itu tidak memutus catatan tak terkalahkan karena pertandingan tercatat imbang sebelum adu penalti. Karena itu, terdapat perbedaan dengan rekor Italia yang tidak mengalami kekalahan, termasuk melalui adu penalti, selama rangkaian 37 pertandingan.

Meski memiliki catatan kaki tersebut, kemenangan atas Argentina tetap membuat Spanyol memegang rangkaian terpanjang berdasarkan penghitungan pertandingan internasional yang digunakan dalam daftar tersebut.

Rekor Tak Terkalahkan Tim Nasional Putra

PeringkatNegaraJumlah lagaPeriode
1Spanyol382024–2026
2Italia372018–2021
3Argentina362019–2022
4Brasil351993–1996
4Spanyol352007–2009
6Senegal332023–2025
6Maroko332025–2026
8Argentina311991–1993
8Spanyol311994–1998
8Maroko312019–2022

Daftar tersebut juga menunjukkan dominasi panjang Spanyol. La Roja tiga kali masuk 10 besar rangkaian tanpa kekalahan terpanjang, termasuk catatan 35 pertandingan pada 2007 hingga 2009 yang menjadi fondasi menuju gelar Piala Dunia 2010.

Enam belas tahun kemudian, Spanyol kembali menjadi juara dunia dengan identitas serupa tetapi generasi yang berbeda. Penguasaan bola tetap menjadi dasar, tetapi kini dipadukan dengan tekanan tinggi, pertahanan yang lebih agresif, dan kedalaman skuad.

Trofi Piala Dunia menjadi penghargaan tertinggi. Namun, rekor 38 pertandingan memperlihatkan bahwa kesuksesan Spanyol bukan hanya ledakan performa selama satu turnamen, melainkan hasil konsistensi yang dibangun lebih dari dua tahun.