periskop.id - Pemerintah Kota (Pemkot) Depok menargetkan fasilitas pabrik pengolahan sampah berkapasitas 1.000 ton per hari mulai beroperasi penuh tahun depan. Pelaksana Tugas Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok Reni Siti Nuraeni memastikan proyek infrastruktur di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung ini tengah memasuki tahap penyusunan draf kemitraan.
“Untuk PT BSA, MoU sudah. Saat ini kita sedang memproses drafting Perjanjian Kerja Sama (PKS),” ujarnya seperti dilansir dari website Pemkot Depok, Jumat (27/2).
Proyek infrastruktur lingkungan ini diproyeksikan menjadi solusi ampuh menekan tingginya beban volume di TPA Cipayung. Keberadaan pabrik sekaligus memangkas tingkat ketergantungan pembuangan limbah menuju fasilitas Nambo.
Penyusunan dokumen perjanjian kerja sama kemitraan tersebut berjalan paralel bersama sejumlah tahapan administrasi. Otoritas lingkungan terus melakukan manuver konsultasi intensif lintas kementerian.
“Kami berkoordinasi terkait substansi KSDPKC dengan Kementerian Dalam Negeri. Sudah ada tim yang ke sana,” jelasnya.
Pihak DLHK turut menjadwalkan agenda konsultasi khusus bersama jajaran Kementerian Lingkungan Hidup. Pertemuan lintas instansi ini secara spesifik menelaah standar spesifikasi alat operasional pengolahan limbah.
“Kami juga harus mendapatkan penguatan dari Kementerian Lingkungan Hidup terkait alat yang digunakan, apalagi ini berkaitan dengan ekspor,” tambahnya.
Dinas pemerintahan ini tengah menyiapkan surat pemberitahuan resmi untuk pihak dewan legislatif daerah. Pemerintah kota juga merangkul pakar dari Universitas Indonesia guna merumuskan skema pembiayaan secara akurat.
“Kami sedang meminta bantuan dari UI untuk menghitung kembali tipping fee yang ditawarkan calon mitra. Angka yang ditawarkan itu layak tidak? Kebesaran, kekecilan, atau sudah cukup?” katanya.
Reni mematok target penyelesaian dokumen kerja sama tuntas secara menyeluruh pada akhir Februari. Tahapan peletakan batu pertama atau groundbreaking dijadwalkan langsung bergulir usai libur Lebaran.
“Target kami PKS selesai bulan ini, akhir Februari. Setelah itu, groundbreaking dilakukan setelah Lebaran,” ungkapnya.
Masa pengerjaan fisik bangunan fasilitas ini diprediksi memakan waktu sekitar enam bulan penuh. Konstruksi pabrik sengaja dirancang menyerupai struktur hanggar demi mempercepat proses pembangunan di lapangan.
“Bangunannya seperti hanggar, jadi relatif cepat. Kalau mulai Mei, enam bulan berarti Oktober selesai,” paparnya.
Pabrik modern ini dijadwalkan melewati serangkaian tahapan uji coba kelayakan pada tahun ini. Kapasitas kinerja mesin pengolahan limbah bakal dipacu secara maksimal memasuki awal tahun depan.
“Tahun depan operasional maksimal. Tahun ini kita uji coba dulu,” tegasnya.
Pemerintah daerah menjamin seluruh rangkaian proses pembangunan proyek memegang teguh asas kehati-hatian secara menyeluruh. “Kami menggunakan aspek kehati-hatian yang lebih komprehensif. Tidak semata-mata karena digesa, lalu ada aspek yang tertinggal,” tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar