Periskop.id - Wali Kota Bandung, Jawa Barat, Muhammad Farhan menyebut sekitar 75 ribu pelajar tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota itu, terindikasi mengalami gangguan kesehatan mental. Angka itu didapat berdasarkan hasil survei Dinas Kesehatan.
“Angkanya 75 ribu. Ini bukan kecil. Tapi kita juga hati-hati menyikapinya,” ujar Wali Kotar Farhan di Bandung, Senin (2/3).
Ia mengakui persoalan terbesar dalam isu kesehatan mental adalah penyangkalan. Terutama dari orang tua yang merasa anaknya dalam kondisi baik-baik saja dan enggan mengakui kemungkinan adanya masalah.
“Ketika bicara gangguan mental, kita sering lihat ke anak orang lain. Jarang yang refleksi ke diri sendiri, jangan-jangan anak saya,” kata Farhan.
Farhan menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung tidak akan mengumbar data tersebut secara berlebihan. Pendekatan akan dilakukan bertahap agar tidak memicu kepanikan di tengah masyarakat.
“Ini masuknya pelan-pelan. Tidak pakai kampanye besar-besaran,” ujar Farhan.
Sebagai langkah konkret, lanjutnya, Pemkot Bandung akan menyinkronkan layanan kesehatan mental hingga tingkat puskesmas. Ia mewajibkan seluruh puskesmas nantinya memiliki layanan psikologi klinis.
Farhan mengatakan, asesmen awal kepada awal terhadap siswa akan dilakukan oleh Guru Bimbingan Konseling (BK) sebelum dirujuk ke puskesmas untuk penanganan lebih lanjut.
Dari hasil asesmen Guru BK, lanjut dia, psikolog akan melakukan penilaian lanjutan sesuai tingkat kebutuhan. Tidak semua siswa otomatis menjalani konsultasi klinis, melainkan berdasarkan rekomendasi profesional.
“Psikolog akan memberikan capacity building ke Guru BK. Jadi mereka bisa mendeteksi lebih dini,” tuturnya.
Ia mencontohkan, perubahan perilaku, seperti siswa yang awalnya ceria menjadi pendiam atau siswa berprestasi yang tiba-tiba kehilangan semangat belajar, akan dicatat dan dikaji lebih lanjut.
Tinggalkan Komentar
Komentar