periskop.id - Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, menegaskan sikap Teheran yang menolak kembali membuka jalur negosiasi dengan Amerika Serikat tanpa adanya jaminan dan kepercayaan yang jelas. Hal ini menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran ingin kembali berunding dan membuka kemungkinan dialog tanpa syarat.
Menurut Boroujerdi, pernyataan tersebut tidak dapat dilepaskan dari rekam jejak panjang hubungan diplomatik Iran dan Amerika Serikat yang kerap diwarnai pelanggaran komitmen. Ia menegaskan bahwa Iran memiliki pengalaman langsung bernegosiasi dengan Negeri Paman Sam itu, namun kesepakatan tersebut justru dibatalkan secara sepihak.
“Kami telah bernegosiasi dengan Amerika Serikat, mencapai kesepakatan, dan menandatangani perjanjian tersebut. Namun, presiden Amerika Serikat sendiri yang kemudian melanggar seluruh komitmen itu,” ujar Boroujerdi saat konferensi pers di Kediaman Resmi Duta Besar Iran, Jakarta, Senin (3/2).
Ia menjelaskan bahwa pengingkaran komitmen tersebut bukan kejadian tunggal. Setelah kesepakatan awal dilanggar, Iran kembali mencoba jalur diplomasi dengan melakukan sejumlah putaran perundingan. Dalam salah satu fase, Iran dan Amerika Serikat telah menjalani lima putaran negosiasi dan dinilai sangat dekat dengan kesepakatan baru.
“Kami melakukan lima putaran negosiasi dan pada saat itu sangat dekat dengan kesepakatan. Tetapi sebelum putaran berikutnya dilaksanakan, Iran justru kembali diserang,” kata Boroujerdi.
Boroujerdi menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa proses negosiasi tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk diselesaikan secara damai. Setiap kali kemajuan tercapai, situasi justru berubah menjadi konfrontasi yang menghentikan jalannya diplomasi.
Ia juga menyinggung penarikan sepihak Amerika Serikat dari kesepakatan internasional yang sebelumnya telah disepakati dan diperkuat oleh komunitas internasional. Meski demikian, Iran tetap memilih jalur dialog dengan kembali membuka perundingan.
“Setelah itu, kami kembali bernegosiasi. Lima putaran telah dilakukan dan hampir mencapai kesepakatan. Namun, sebelum putaran keenam, serangan kembali terjadi,” kata Boroujerdi.
Pola serupa, lanjut dia, kembali terulang dalam proses negosiasi berikutnya. Iran telah menjalani dua putaran pembicaraan dan menurut berbagai pihak, proses tersebut menunjukkan kemajuan signifikan.
“Kami kembali melakukan dua putaran negosiasi dan semua pihak mengatakan bahwa kami semakin dekat dengan kesepakatan. Tetapi sebelum putaran ketiga dimulai, Iran kembali diserang,” ujarnya.
Boroujerdi menyebut bahwa serangan-serangan tersebut melibatkan Israel dengan dukungan Amerika Serikat. Kondisi itu, menurutnya, semakin memperlemah dasar kepercayaan dalam proses diplomasi.
Meskipun begitu, Boroujerdi menegaskan Iran tidak menutup pintu diplomasi. Iran, kata dia, tetap memandang dialog sebagai salah satu cara untuk menyelesaikan perbedaan secara damai dan demokratis. Namun, Iran tidak ingin kembali berada dalam posisi yang dirugikan.
“Kami adalah pihak yang berharap pada negosiasi dan menginginkan proses yang demokratis. Tetapi kami tidak ingin menjadi pihak yang kembali tertipu oleh negosiasi yang berujung pada serangan,” tegasnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar