Periskop.id - PT PAM Jaya (Perseroda) menyatakan mulai menggunakan teknologi gel khusus, sebagai solusi menutup kebocoran pada jaringan pipa air. Dengan begitu, PAM Jaya tak lagi harus membongkar pipa yang ada.

Direktur Utama PAM Jaya Arief Nasrudin mengatakan, teknologi tersebut bekerja dengan memasukkan gel ke dalam jaringan pipa yang mengalami kebocoran. Gel itu kemudian akan menutup celah atau lubang pada pipa.

“Sekarang kita punya gel. Jadi pipa yang bocor tidak perlu dibongkar untuk ukuran-ukuran tertentu. Gel itu seperti teknologi pada ban run flat tire. Ketika ada lubang, dia akan langsung menutup,” kata Arief di Balai Kota Jakarta, Rabu (11/3). 

Menurut dia, teknologi tersebut telah diuji coba pada jaringan pipa di kawasan Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Hasilnya, kebocoran pada pipa dapat tertutup dengan cepat tanpa perlu pembongkaran.

Arief menjelaskan, gel tersebut dapat bertahan hingga sekitar delapan tahun. Alhasil teknologi ini dinilai efektif untuk mengurangi kebocoran pada jaringan pipa lama.

“Waktu kita coba sekitar jam dua malam, yang bolong-bolong langsung tertutup dan itu bisa delapan tahun bertahan. Kita sekarang sudah punya,” ungkap Arief.

Penggunaan teknologi ini juga diharapkan dapat membantu menekan tingkat kehilangan air atau Non-Revenue Water (NRW), yaitu air yang sudah diproduksi namun tidak tercatat sebagai penggunaan pelanggan.

Menurut Arief, salah satu penyebab NRW adalah kebocoran pada jaringan pipa yang sebagian sudah berusia cukup tua. “Usia pipa kita variatif. Ada yang sudah lebih dari 30 tahun dan jumlahnya sekitar 70% dari jaringan yang ada,” serunya.  

Karena itu, penggunaan teknologi perbaikan tanpa pembongkaran dinilai dapat mempercepat penanganan kebocoran, sekaligus mengurangi potensi kehilangan air bersih untuk pelanggan.

Selain itu, perusahaan juga tengah mengembangkan sejumlah inovasi lain, seperti digitalisasi sistem pelayanan, penggunaan smart water meter. Kemudian, pengembangan aplikasi layanan pelanggan agar masyarakat bisa lapor jika mengalami gangguan air melalui ponsel.

Air dari Udara
PAM Jaya juga menyiapkan teknologi baru yang mampu menghasilkan air minum dengan menangkap kandungan air dari udara. Teknologi tersebut rencananya akan ditempatkan di kawasan Sudirman-Thamrin.

Dengan adanya teknologi itu, nantinya warga bisa langsung mengonsumsi air tanpa perlu dimasak. “Nanti kami akan punya alat yang namanya 'trapping atmosphere'. Jadi dia itu 'water trapping atmosphere', dia tidak ada sumber airnya tapi bisa menciptakan air,” serunya.

Tak hanya itu, Perusahaan, lanjutnya, juga berencana memproduksi air minum kemasan ramah lingkungan berbahan kertas, untuk mengurangi penggunaan botol plastik.

“Nanti ada air kemasan dari kita, tapi kemasannya kertas. Kita nggak pakai plastik,” tuturnya.

Menurut Arief, air minum tersebut nantinya akan dikemas menggunakan bahan kertas yang berbasis kertas, sehingga lebih mudah didaur ulang dibandingkan botol plastik sekali pakai. Sebelum dijual ke masyarakat, produk tersebut akan diuji coba terlebih dahulu di lingkungan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, terutama untuk kebutuhan rapat atau kegiatan resmi.

“Saya rencananya mau memberikan pemerintah DKI, Pemprov itu nggak boleh pakai air kemasan plastik lagi dan kita mau 'trial free',” ungkap Arief.

Berbagai inovasi dilakukan, untuk memperluas layanan air perpipaan. Saat ini, cakupan layanan air perpipaan di Jakarta disebut telah mencapai sekitar 80% dan ditargetkan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.

"Zona bebas air tanah perlu diperluas, ini yang sedang saya mintakan sama Pemprov DKI," imbuhnya. 

Ia mengatakan bahwa gedung-gedung tinggi yang sudah mendapatkan suplai air dari PAM Jaya seharusnya tidak lagi menggunakan air tanah. "Saya sudah harus menyatakan 'law enforcement' bahwa gedung tinggi yang sudah disuplai air PAM, tidak boleh lagi pakai air tanah," pungkasnya.