periskop.id - Herman Sulistyo (71), tokoh Pramuka yang dikenal luas di Tangerang Raya dan Banten, meninggal dunia setelah menjadi korban tabrak lari di Jalan Raya Serang KM 11, Cikupa, Kabupaten Tangerang. Peristiwa itu terjadi pada dini hari Minggu (7/6).

Kepala Satuan Lalu Lintas Polresta Tangerang, Ajun Komisaris Polisi Fery Oktaviari Pratama, menyatakan kasus ini langsung ditangani Unit Penegakan Hukum Lalu Lintas jajarannya.

Advertisement

“Untuk kejadian laka lantas tersebut sudah dalam proses penanganan Unit Gakkum Satlantas Polresta Tangerang,” ujar AKP Fery dalam keterangan resmi di Tangerang, Senin (8/6).

Tim penyidik, menurut Fery, telah menggelar olah tempat kejadian perkara untuk mengumpulkan bukti dan petunjuk. Sejumlah saksi turut diperiksa guna mempercepat pengungkapan identitas pengemudi truk yang melarikan diri.

“Saat ini dalam proses penyelidikan. Kita masih menelusuri dari CCTV yang ada di sekitar lokasi dan juga dari saksi-saksi,” tuturnya.

AKP Fery menguraikan, kejadian berlangsung sekitar pukul 01.00 WIB. Sebuah truk yang belum teridentifikasi melaju dari arah Bitung menuju Cikupa, lalu menghantam Herman yang tengah mengayuh sepeda.

“Kendaraan truk melaju dari arah Bitung menuju Cikupa dan sesampainya di TKP, terlibat kecelakaan lalu lintas dengan pengendara sepeda bernama Herman. Akibat peristiwa tersebut, korban meninggal dunia,” terangnya.

Herman dievakuasi ke RSUD Balaraja untuk menjalani pemeriksaan visum sebagai bagian dari penyelidikan lanjutan. Pihak kepolisian juga menjalin koordinasi dengan Jasa Raharja demi mempercepat proses santunan bagi keluarga korban.

“Kita juga berkoordinasi dengan Jasa Raharja untuk percepatan klaim santunan,” tambah Fery.

Herman Sulistyo dikenal sebagai salah satu sosok sentral gerakan Pramuka di Tangerang Raya hingga Banten. Ia dikenal karena komitmennya menjaga nilai-nilai kepramukaan dalam keseharian, termasuk kebiasaannya selalu mengenakan seragam Pramuka lengkap di setiap kesempatan, baik acara resmi maupun aktivitas sehari-hari.

Bersepeda menjadi pilihan tetapnya setiap kali menghadiri kegiatan kepramukaan, sebuah kebiasaan yang terus ia jalani hingga akhir hayatnya.

Sebelum dimakamkan, jenazah Herman disalatkan di Masjid Raya Al-A’zhom Kota Tangerang pada Minggu (7/6) siang. Sejumlah pejabat daerah dan anggota Pramuka se-Banten hadir melepas kepergiannya. Ia kemudian dikebumikan di TPU Rawa Kucing, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, dengan prosesi penghormatan secara kepramukaan.