Periskop.id - Proyek MRT Jakarta rute Lebak Bulus-Kota diharapkan tidak hanya menjadi jalur transportasi massal baru, tetapi juga pintu masuk untuk memperkenalkan kearifan lokal Glodok dan Kota Tua. Kawasan bersejarah tersebut dinilai memiliki kekayaan budaya, kuliner, komunitas, dan jejak sejarah yang bisa diangkat melalui ruang-ruang publik di sekitar stasiun.
Kontributor komunitas Gang-gangan, Gregorius Jasson, mengatakan MRT punya potensi lebih besar daripada sekadar tempat naik dan turun penumpang. Menurut dia, stasiun dan kawasan transit dapat menjadi media informasi publik yang menghubungkan warga dengan identitas kawasan yang mereka kunjungi.
"Diharapkan MRT ini tidak hanya sekadar transit buat turun naik penumpang, tetapi juga memperkenalkan kawasannya ini ada apa saja dan juga komunitas-komunitas lokalnya," kata Gregorius Jasson, kontributor komunitas Gang-gangan, dalam diskusi Uncovering Glodok di Kota Tua Jakarta, Minggu (14/6).
Jasson menilai penumpang MRT seharusnya bisa mendapat informasi lebih banyak tentang kawasan sekitar stasiun. Informasi itu dapat berupa sejarah Glodok dan Kota Tua, peta destinasi budaya, agenda komunitas, jalur jalan kaki, kuliner khas, hingga cerita kampung atau gang yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan warga lokal.
Dengan pendekatan tersebut, perjalanan menggunakan MRT tidak berhenti sebagai aktivitas mobilitas. Penumpang dapat diarahkan untuk mengenal kawasan, berinteraksi dengan komunitas, dan menjelajahi ruang kota secara lebih sadar.
Jasson mencontohkan, sejumlah kota di luar negeri yang telah memanfaatkan ruang stasiun dan kawasan transit sebagai medium pengenalan sejarah. Salah satunya Malaysia, yang menghadirkan informasi tentang kawasan pecinan melalui instalasi sejarah di ruang publik dan fasilitas transportasi.
"Salah satunya Malaysia, mereka memberikan informasi sejarah pecinan, termasuk di setiap gang dan di MRT, mereka ada instalasi sejarah," ucapnya.
Menurut Jasson, cara seperti itu dapat membuat transportasi publik menjadi lebih hidup. Stasiun tidak lagi hanya menjadi simpul perpindahan moda, tetapi juga ruang edukasi, promosi budaya, dan penghubung antara pendatang dengan komunitas setempat.
Gagasan tersebut relevan karena MRT Jakarta Fase 2A akan menghubungkan kawasan pusat kota hingga Kota Tua. Rute ini melewati wilayah yang memiliki lapisan sejarah panjang, mulai dari kawasan pemerintahan, perdagangan, pecinan, hingga pusat kota lama Batavia.
Kawasan Glodok dan Kota Tua sendiri selama ini dikenal sebagai salah satu ruang sejarah terpenting di Jakarta. Glodok memiliki tradisi masyarakat Tionghoa yang kuat, sementara Kota Tua menyimpan bangunan kolonial, museum, alun-alun, dan ruang publik yang menjadi tujuan wisata.
Pendiri Yayasan Kota Tua Jakarta Dodi Riadi Darwis mengatakan, pengenalan budaya lokal menjadi penting karena Glodok dan Kota Tua memiliki sejarah panjang dalam perkembangan Jakarta.
"Kawasan tersebut menyimpan beragam warisan budaya, mulai dari tradisi masyarakat China, kuliner khas, hingga bangunan bersejarah yang masih bertahan hingga saat ini," kata Dodi.
Dodi juga menyoroti kekayaan kuliner di kawasan tersebut. Menurut dia, Kota Tua dan Glodok memiliki sejumlah kuliner khas yang telah melekat dengan memori warga, seperti kopi es Tak Kie, kue keranjang, dan kue mangkok.
Memperkenalkan Sejarah lewat Kuliner
Kuliner menjadi salah satu cara paling mudah untuk memperkenalkan sejarah kawasan. Bagi pengunjung baru, makanan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami komunitas, tradisi, dan perjalanan budaya yang membentuk wajah Glodok dan Kota Tua hingga hari ini.
Karena itu, peningkatan akses transportasi menuju kawasan bersejarah perlu diikuti penguatan narasi budaya. Jika MRT hanya berfungsi sebagai infrastruktur transit, peluang besar untuk memperkenalkan sejarah lokal bisa terlewat. Sebaliknya, jika stasiun dan kawasan sekitarnya dikurasi dengan baik, MRT dapat menjadi etalase baru budaya Jakarta.
Konsep ini sejalan dengan pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development. TOD tidak hanya bicara tentang kedekatan stasiun dengan gedung, tetapi juga bagaimana ruang di sekitar stasiun dibuat nyaman bagi pejalan kaki, terkoneksi dengan transportasi lain, mendukung ekonomi lokal, dan memiliki identitas kawasan yang kuat.
Dalam konteks Glodok dan Kota Tua, TOD dapat diarahkan untuk memperkuat wisata sejarah dan ekonomi komunitas. Jalur pejalan kaki, papan informasi, penanda arah, instalasi sejarah, ruang komunitas, peta kuliner, hingga agenda budaya dapat menjadi bagian dari pengalaman pengunjung setelah turun dari MRT.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga telah menempatkan MRT sebagai salah satu kunci revitalisasi Kota Tua. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo sebelumnya menyebut kehadiran MRT hingga Kota Tua pada 2029 akan menjadi pengubah permainan bagi kawasan tersebut.
“Game changer Kota Tua adalah MRT. Ketika MRT tersambung hingga Kota Tua pada 2029, kawasan ini akan berubah secara signifikan. Karena itu, konsep transit-oriented development (TOD) sudah kami siapkan sejak sekarang, termasuk kemudahan akses transportasi,” ujarnya.
Pramono juga menekankan pentingnya menjaga kawasan cagar budaya, termasuk Kota Tua, Pasar Baru, dan Glodok. Menurut dia, kawasan bersejarah itu harus tetap dirawat karena menjadi bagian penting dari daya tarik masa depan Jakarta.
“Warisan budaya di Kota Tua dan sejumlah kawasan cagar budaya harus tetap terawat dengan baik. Masa depan Jakarta ada di Kota Tua dan Kepulauan Seribu, karena keduanya akan menjadi daya tarik utama kota ini,” tuturnya.
Dari sisi progres, MRT Jakarta Fase 2A rute Bundaran HI-Kota Tua disebut telah mencapai 59,7%. Jalur hingga Harmoni ditargetkan mulai beroperasi paling lambat akhir 2027, sedangkan ruas sampai Kota Tua ditargetkan rampung pada 2029.
“Kalau ini sudah selesai ruas utama dari Utara-Selatan sepanjang 22,2 kilometer, selesai secara keseluruhan di tahun 2029,” ujar Pramono.
Area dengan Kepadatan Sejarah
Khusus segmen Glodok-Kota, proyek MRT Fase 2A CP203 mencakup pembangunan Stasiun Glodok dan Stasiun Kota bawah tanah serta terowongan yang menghubungkan kawasan Mangga Besar hingga Kota Tua. Segmen ini menjadi penting karena berada di area dengan kepadatan sejarah, perdagangan, dan mobilitas warga yang tinggi.
Pengelola Kota Tua juga mendorong wisatawan memanfaatkan transportasi umum ketika berkunjung. Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra mengatakan konsep TOD perlu didorong agar akses menuju kawasan sejarah lebih mudah dan tidak terlalu bergantung pada kendaraan pribadi.
"Kami mendorong penggunaan TOD, transportasi ke sini ke mana pun. Tujuannya biar mudah dalam akses transportasi," kata Kepala Unit Pengelola Kawasan Kota Tua Jakarta Denny Aputra saat ditemui di Kota Tua, Jakarta, Minggu.
Denny menyebut pada 2029, Transjakarta dan MRT akan terkoneksi melalui Stasiun Kota. Integrasi itu diharapkan membuat Kota Tua semakin mudah dijangkau oleh warga dari berbagai wilayah.
"2029 Transjakarta dan MRT itu akan terkoneksi melalui Stasiun Kota. Stasiun terkoneksi, MRT terkoneksi, Transjakarta terkoneksi," ujarnya.
Integrasi tersebut penting karena pengunjung Kota Tua dan Glodok tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga dari daerah penyangga hingga luar kota. Selama ini, KRL menjadi salah satu moda utama menuju Stasiun Jakarta Kota. Kehadiran MRT akan menambah pilihan transportasi publik dan memperluas akses pengunjung.
Namun, akses yang lebih mudah juga membawa tantangan. Ketika jumlah pengunjung meningkat, kawasan perlu ditata agar tidak kehilangan karakter lokal. Pemerintah dan pengelola kawasan perlu memastikan arus wisatawan tidak hanya mengarah ke titik populer, tetapi juga memberi manfaat bagi pelaku ekonomi lokal, komunitas sejarah, pengelola museum, dan usaha kuliner setempat.
Karena itu, pengembangan MRT ke Kota sebaiknya tidak dipisahkan dari strategi kebudayaan. Stasiun Glodok dan Stasiun Kota dapat menghadirkan informasi sejarah pecinan, peta kuliner legendaris, narasi bangunan cagar budaya, hingga kalender kegiatan komunitas. Dengan begitu, pengunjung langsung mendapat konteks begitu keluar dari stasiun.
Keterlibatan komunitas lokal juga menjadi kunci. Komunitas seperti Gang-gangan, pengelola museum, pegiat sejarah, pelaku kuliner, pemandu wisata jalan kaki, dan warga setempat dapat dilibatkan dalam penyusunan informasi kawasan. Dengan cara ini, narasi yang muncul tidak hanya datang dari papan informasi resmi, tetapi juga dari pengalaman hidup warga.
Dalam jangka panjang, MRT ke Kota berpotensi mengubah cara orang menikmati Glodok dan Kota Tua. Kawasan ini tidak lagi hanya menjadi tujuan foto akhir pekan, tetapi juga ruang belajar sejarah, kuliner, arsitektur, komunitas, dan kehidupan kota.
Agar manfaatnya maksimal, revitalisasi dan pembangunan transportasi harus berjalan beriringan. Infrastruktur membuat kawasan lebih mudah dicapai, sementara penguatan kearifan lokal memastikan kawasan tetap punya jiwa. Tanpa identitas budaya, stasiun hanya menjadi titik transit. Namun, dengan narasi lokal yang kuat, MRT dapat menjadi pintu gerbang baru untuk mengenal Jakarta dari akar sejarahnya.
Dengan target penyelesaian rute hingga Kota pada 2029, peluang tersebut masih terbuka untuk dirancang sejak sekarang. Glodok dan Kota Tua membutuhkan transportasi modern, tetapi juga membutuhkan cara baru untuk menceritakan dirinya kepada generasi muda, wisatawan, dan warga yang setiap hari melintas di ruang kota.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar