Periskop.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta berencana menggabungkan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 Pagi dan SDN Kebayoran Lama Selatan 11 Pagi menjadi satu satuan pendidikan. Kebijakan tersebut disiapkan bersamaan dengan pembangunan gedung baru yang ditargetkan mulai direalisasikan pada 2027.
Kepala Suku Dinas Pendidikan Wilayah I Jakarta Selatan Santoso mengatakan penggabungan atau regroupingdilakukan untuk menyederhanakan tata kelola dua sekolah negeri yang lokasinya berdampingan. "Untuk efektivitas dan efisiensi manajemen di tingkat satuan pendidikan (sekolah)," kata Santoso saat dihubungi di Jakarta, Rabu (22/7).
Rencana tersebut sebenarnya telah disusun sejak 2025. Gedung baru diproyeksikan berdiri di lahan SDN Kebayoran Lama Selatan 09, sedangkan area sekolah 11 dapat digunakan untuk mendukung akses dan penataan kompleks pendidikan.
"Kemungkinan pakai yang SDN 09 karena nantinya lokasi gedung yang baru di lahan SDN 09," ucap Santoso.
Dalam keterangan sebelumnya, Santoso menjelaskan konsep penataan kedua lahan secara lebih terperinci. "Sebenarnya ini kan SDN 09 dan SDN 11 mau digabung jadi satu. Kemudian yang dibangun itu di SDN 09, sementara lahan SDN 11 itu untuk akses. Itu rencananya," tutur Santoso.
Identitas Sekolah Hasil Penggabungan Belum Diumumkan
SDN Kebayoran Lama Selatan 09 dan 11 saat ini masih terdaftar sebagai dua satuan pendidikan berbeda dalam basis data Kemendikdasmen. SDN 09 memiliki NPSN 20105964, sedangkan SDN 11 tercatat dengan NPSN 20105966. Keduanya berstatus sekolah negeri dan berada di Jalan H. Moh. Ismail, Kebayoran Lama Selatan.
Pemprov DKI belum mengumumkan nama resmi sekolah setelah penggabungan, kepala sekolah yang akan memimpin, perubahan NPSN, pembagian rombongan belajar, maupun dampaknya terhadap guru dan tenaga kependidikan.
Penggabungan juga tidak serta-merta berarti jumlah siswa atau tenaga pendidik dikurangi. Penataan tersebut masih membutuhkan keputusan administratif dari Dinas Pendidikan, pembaruan data pendidikan, serta sosialisasi kepada orang tua dan warga sekolah.
Gedung SDN 09 Dikosongkan Sejak November 2024
Rencana penggabungan muncul setelah bangunan SDN Kebayoran Lama Selatan 09 mengalami kerusakan berat. Sebagian rangka atap sekolah roboh pada 27 November 2024 ketika kegiatan belajar diliburkan untuk Pilkada DKI Jakarta.
Kerusakan berdampak pada empat ruang kelas, yakni kelas 1A, 2A, 3A, dan 4A, serta satu ruang Unit Kesehatan Sekolah. Pemeriksaan teknis menyatakan bangunan tidak lagi layak digunakan sehingga seluruh area sekolah dikosongkan demi keselamatan.
Mulai 28 November 2024, sekitar 270 siswa SDN 09 dipindahkan ke SDN 11 yang berada di sampingnya. Kegiatan belajar kemudian dijalankan dengan sistem dua sif karena kedua kelompok siswa harus berbagi ruang kelas.
Kondisi tersebut membuat siswa SDN 09 yang sebelumnya belajar pada pagi hari harus masuk siang setelah kegiatan sekolah 11 selesai. Sejumlah orang tua mengeluhkan berkurangnya waktu istirahat dan terganggunya kegiatan anak pada sore hari.

Pembangunan Diusulkan Mulai 2027
Pembangunan kembali gedung telah memasuki tahap perencanaan sejak 2025 melalui penyusunan Detail Engineering Design atau DED. Dokumen tersebut akan menjadi dasar desain teknis dan perhitungan kebutuhan pembangunan.
Sekolah tersebut semula masuk rencana rehabilitasi total tahun jamak 2026–2027. Namun, penyesuaian anggaran membuat jumlah lokasi pembangunan sekolah dikurangi dari 22 menjadi tujuh sehingga pengerjaan SDN 09 tertunda.
Santoso mengatakan pembangunan fisik secara prosedural diusulkan pada tahun anggaran 2027, meskipun pemerintah tetap mencari peluang agar pengerjaan dapat dipercepat.
"Yang jelas kami Pemprov sedang mengupayakan percepatan proses penanganannya. Kalau secara anggaran, sebenarnya sudah masuk di perencanaan, masuk di DED (Detailed Engineering Design) 2025," kata Santoso.
"Mudah-mudahan bisa lebih cepat, biar cepat realisasi," lanjutnya.
"Kalau sistem penganggaran kan memang ada mekanisme yang harus dilalui. Pola penganggaran tidak bisa ujug-ujug, nggak kayak kita pakai uang pribadi yang langsung bisa digunakan. Perencanaan dulu baru realisasinya," jelas Santoso.
Komisi E DPRD DKI turut mendukung percepatan pembangunan. Ketua Komisi E DPRD DKI M. Subki mengatakan proyek tersebut telah diusulkan Dinas Pendidikan, tetapi belum dapat dikerjakan karena efisiensi anggaran.
"Tapi kan hari ini ada efisiensi, jadi belum bisa membangun sekolah baru. Mudah-mudahan tahun depan sudah diprioritaskan," ujar Subki.
Pembelajaran Dua Sif Tetap Berjalan
Dinas Pendidikan DKI memastikan layanan pendidikan tetap berlangsung selama menunggu pembangunan. Kurikulum, pendampingan guru, dan proses belajar disebut tetap dijalankan sesuai standar meskipun jam sekolah harus dibagi.
"Keselamatan peserta didik menjadi prioritas kami. Di saat yang sama, kami memastikan seluruh siswa tetap memperoleh hak belajar secara optimal. Meski kegiatan belajar mengajar sementara dilaksanakan dengan sistem dua shift, proses pembelajaran tetap mengacu pada kurikulum yang berlaku, didampingi guru, dan kualitas layanan pendidikan tetap terjaga," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Nahdiana.
"Kami terus melakukan pendampingan agar proses belajar mengajar berlangsung efektif. Yang terpenting, tidak ada satu pun anak yang kehilangan haknya untuk memperoleh pendidikan yang berkualitas selama proses pembangunan sekolah dipersiapkan," katanya.
Penggabungan dua sekolah diharapkan tidak hanya menyelesaikan persoalan gedung rusak, tetapi juga menghasilkan kompleks pendidikan dengan manajemen lebih sederhana dan fasilitas yang dapat digunakan bersama.
Namun, kepastian pelaksanaannya masih menunggu alokasi anggaran 2027, finalisasi desain, serta keputusan administratif mengenai bentuk sekolah hasil penggabungan. Selama tahapan tersebut belum selesai, siswa SDN 09 tetap menumpang dan berbagi waktu belajar dengan siswa SDN 11.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar