periskop.id - Nilai tukar rupiah ditutup menguat pada perdagangan Selasa, 10 Maret 2026, setelah tekanan geopolitik Timur Tengah sedikit mereda dan indeks dolar AS melemah. Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi mencatat, rupiah ditutup menguat 87 poin ke level Rp16.862 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp16.925..

“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 87 poin, setelah sebelumnya sempat menguat hingga 95 poin di level Rp16.862 dari penutupan sebelumnya di level Rp16.925,” ujar Ibrahim, Selasa (10/3).

Indeks dolar AS tercatat melemah pada perdagangan Selasa, menandakan tekanan terhadap rupiah mulai berkurang setelah sebelumnya penguatan mata uang AS menekan pasar.

Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan panggilan telepon dengan Donald Trump dan membahas proposal yang bertujuan untuk penyelesaian cepat perang Iran, sehingga meredakan kekhawatiran pasar terkait gangguan pasokan energi yang berkepanjangan.

Trump sebelumnya menyatakan perang melawan Iran sangat lengkap dan Washington jauh lebih maju dari perkiraan awal empat hingga lima minggu. Menanggapi hal ini, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan mereka akan menentukan akhir perang, dan Teheran tidak akan mengizinkan satu liter minyak pun diekspor dari wilayah tersebut jika serangan AS dan Israel berlanjut.

Harga minyak dunia tetap berada di bawah tekanan karena Trump mempertimbangkan opsi untuk melonggarkan sanksi minyak terhadap Rusia dan melepaskan cadangan minyak mentah darurat, langkah yang bertujuan menekan lonjakan harga global. Negara-negara G7 juga menyatakan kesiapan mengambil langkah-langkah yang diperlukan jika harga minyak terus melonjak, meski belum berkomitmen melepaskan cadangan darurat.

Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia pada Februari 2026 tercatat US$151,9 miliar, turun dari US$154,6 miliar pada Januari. Bank Indonesia menyebut penurunan cadangan devisa terjadi akibat intervensi moneter dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.

Meskipun demikian, BI memastikan kecukupan cadangan devisa masih setara pembiayaan 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri, di atas standar internasional tiga bulan impor. Cadangan devisa ini dinilai mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia.