periskop.id - Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (02.06.2026) seiring menguatnya indeks dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah. Tekanan juga datang dari dalam negeri setelah data inflasi Mei 2026 menunjukkan kenaikan dibanding bulan sebelumnya.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menyebut pasar global masih berada dalam kondisi penuh ketidakpastian yang mendorong penguatan dolar AS dan pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pada perdagangan sore hari, rupiah ditutup melemah 127 poin setelah sempat tertekan hingga 130 poin. Rupiah bergerak di level Rp17.966 per dolar AS, melemah dari penutupan sebelumnya di Rp17.839.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup melemah 127 point sebelumnya sempat melemah 130 pointdilevel Rp.17.966 dari penutupan sebelumnya di level Rp.17.839,” ulas Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (3/6).
Ibrahim menjelaskan bahwa tekanan tersebut tidak lepas dari kombinasi faktor eksternal dan internal yang terjadi secara bersamaan.
Dari sisi eksternal, investor memantau eskalasi ketegangan di Timur Tengah, termasuk operasi Israel di Lebanon selatan, serangan rudal Iran ke Kuwait dan Bahrain, serta aksi militer AS di Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz yang menjadi jalur vital sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Kondisi ini meningkatkan risiko gangguan suplai energi global dan mendorong kenaikan harga minyak, yang kemudian memicu kekhawatiran inflasi lanjutan di AS serta memperkuat ekspektasi kebijakan moneter ketat Federal Reserve.
Di saat yang sama, pasar juga mencermati ketidakpastian negosiasi Israel–Lebanon dan Washington–Teheran, sementara data ekonomi AS seperti lowongan kerja yang naik tak terduga pada April memperkuat peluang Fed mempertahankan suku bunga lebih lama.
Sementara itu, dari dalam negeri, tekanan datang dari data inflasi yang kembali meningkat pada Mei 2026.
“Sentimen mata uang rupiah memburuk setelah inflasi Mei 2026 mencapai 0,28% month to month, naik dari April 2026 sebesar 0,13%. Indeks Harga Konsumen naik dari 111,09 menjadi 111,40. Secara tahun kalender inflasi tercatat 3,08%,” kata Ibrahim.
Ia juga menyoroti faktor-faktor yang memengaruhi inflasi, mulai dari harga pangan, energi, administered prices, hingga dampak pelemahan rupiah itu sendiri. Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia masih mencatat surplus pada April 2026 sebesar US$89,1 juta, melanjutkan tren surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, surplus tersebut dinilai semakin menyempit.
“Surplus perdagangan April 2026 memang masih positif di US$89,1 juta, dengan nonmigas sebesar US$3,53 miliar, tetapi secara statistik terjadi penyempitan tajam yang menggarisbawahi tekanan daya beli dan ketahanan eksternal akibat gangguan pasokan global,” ujarnya.
Dengan kombinasi tekanan eksternal dari geopolitik dan kebijakan moneter AS, serta faktor internal berupa inflasi dan penyempitan surplus perdagangan, rupiah diperkirakan masih berada dalam fase volatilitas tinggi dalam jangka pendek.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar