periskop.id - Pergerakan rupiah pada perdagangan hari ini, Kamis 4 Juni 2026 diperkirakan masih berada dalam tekanan dengan kecenderungan melemah terbatas. Hal itu seiring kuatnya sentimen eksternal dari penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik global, sementara faktor domestik belum cukup kuat menopang penguatan mata uang Garuda.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang & Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai rupiah masih akan bergerak fluktuatif. Rupiah diperkirakan masih akan bergerak dalam rentang terbatas dengan risiko pelemahan tetap dominan pada perdagangan Kamis.
“Untuk perdagangan Kamis, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.960–Rp18.030,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Kamis (4/6).
Sebelumnya, rupiah ditutup melemah 127 poin setelah sempat tertekan hingga 130 poin, berada di level Rp17.966 per dolar AS pada Rabu (4/6), dari posisi penutupan sebelumnya di Rp17.839.
Dari sisi eksternal, tekanan utama berasal dari penguatan dolar AS di tengah meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, termasuk eskalasi konflik di kawasan Lebanon selatan, ketegangan di kawasan Teluk, serta aksi militer di sekitar Pulau Qeshm dekat Selat Hormuz yang merupakan jalur vital energi global. Kondisi ini memperkuat kekhawatiran gangguan pasokan minyak dunia dan mendorong ekspektasi inflasi global tetap tinggi, yang pada akhirnya menjaga peluang kebijakan suku bunga ketat Federal Reserve lebih lama.
Sementara dari dalam negeri, tekanan berasal dari inflasi Mei 2026 yang meningkat menjadi 0,28% month to month (MtM), naik dari 0,13% pada April, dengan Indeks Harga Konsumen naik dari 111,09 menjadi 111,40. Secara tahunan, inflasi tercatat 3,08% year to date, dipengaruhi oleh harga pangan, energi, administered prices, serta dampak pelemahan rupiah.
Di sisi perdagangan, neraca dagang Indonesia pada April 2026 masih mencatat surplus sebesar US$89,1 juta, melanjutkan tren positif selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Namun, surplus tersebut tercatat menyempit tajam, dengan kontribusi utama berasal dari sektor nonmigas sebesar US$3,53 miliar, yang menandakan mulai meningkatnya tekanan pada ketahanan eksternal di tengah gangguan rantai pasok global.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar