periskop.id - Kementerian Sosial RI menjaring 77 anak telantar dan putus sekolah di wilayah Jakarta dan sekitarnya untuk kembali melanjutkan pendidikan melalui program Sekolah Rakyat. Program ini menjadi salah satu prioritas Presiden Prabowo Subianto dalam memberikan akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi keluarga dengan tingkat kesejahteraan terendah.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa inisiatif ini merupakan perhatian khusus Presiden.
“Kami ingin memberikan perhatian khusus kepada keluarga yang tidak mampu untuk bisa memperoleh kesempatan pendidikan dengan lingkungan berkualitas melalui Sekolah Rakyat ini,” ujarnya dikutip dari Antara, Rabu (22/4).
Dialog tersebut turut dihadiri Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Para calon siswa yang hadir memiliki latar belakang pendidikan beragam. Ada yang hanya lulus kelas 5 SD, ada yang putus di kelas 1 SMP, hingga mereka yang berhenti di tengah jenjang SMA.
“Ada yang hanya lulus kelas 5 SD, ada yang putus di kelas 1 SMP. Mereka didampingi orang tua kandung maupun pendamping bagi anak yang yatim piatu,” jelas Saifullah.
Anak-anak ini sebelumnya ditemukan melalui penyisiran lapangan dan dipadankan dengan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebagian besar dari mereka adalah anak usia sekolah yang bekerja atau mengemis di jalanan.
“Pak Presiden mengajak kita untuk jujur bahwa masih ada saudara kita yang belum bisa sekolah. Mari kita sambut kejujuran ini dengan semangat mensukseskan Sekolah Rakyat agar lulusannya nanti menjadi pemimpin di masa depan,” lanjut Saifullah.
Program Sekolah Rakyat dirancang sebagai model pengentasan kemiskinan terpadu. Selain pendidikan, siswa penerima manfaat juga akan mendapatkan akses ke program unggulan pemerintah seperti Cek Kesehatan Gratis (CKG), Makan Bergizi Gratis (MBG), jaminan kesehatan PBI-JK, dukungan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, hingga program 3 Juta Rumah bagi keluarga siswa.
Kementerian Sosial melaporkan bahwa saat ini terdapat 166 titik Sekolah Rakyat Rintisan di 38 provinsi dengan kapasitas 15.900 siswa, didukung oleh 2.400 guru dan lebih dari 4.000 tenaga kependidikan.
Tahun ini, pemerintah juga membangun 101 Sekolah Rakyat permanen sebagai bagian dari target besar membangun 500 sekolah hingga 2029.
Tinggalkan Komentar
Komentar