periskop.id - Nilai tukar rupiah terus menunjukkan pelemahan signifikan dalam perdagangan terbaru dan telah menembus level Rp17.500 per dolar AS. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut dalam waktu dekat.
“Ya, hari ini rupiah terus mengalami pelemahan. Sudah menyentuh di level Rp17.500 yang kemungkinan besar takkan kembali menuju di Rp17.550-an. Angka Rp17.550 kemungkinan besar akan tercapai dalam minggu ini,” ujar Ibrahim dalam keterangan yang diterima Periskop, Selasa (12/5).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor eksternal dan internal yang saling menekan.
Dari sisi eksternal, Ibrahim menyoroti kembali meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, khususnya di kawasan Selat Hormuz. Hal ini dipicu penolakan Amerika Serikat terhadap proposal Iran yang dimediasi oleh Pakistan dan Qatar.
“Penolakan ini membuat ketegangan baru karena secara tak terduga serangan-serangan kecil masih terjadi di Selat Hormuz,” katanya.
Ia menambahkan, meskipun sebelumnya sempat dinyatakan mereda, konflik di kawasan Timur Tengah justru masih berlangsung di lapangan. Amerika Serikat disebut masih melakukan serangan di Selat Hormuz yang kemudian dibalas oleh Iran, sehingga ketegangan tetap tinggi.
Selain itu, keterlibatan Uni Emirat Arab turut memperburuk situasi. Serangan terhadap fasilitas minyak Iran, termasuk yang menargetkan kilang di Pulau Lavan pada awal April, disebut masih terjadi meski tidak banyak terekspos secara internasional.
Kondisi tersebut mendorong penguatan indeks dolar AS dan kenaikan harga minyak mentah dunia, khususnya Brent crude oil, yang pada akhirnya meningkatkan tekanan terhadap rupiah.
“Nah, ini yang membuat indeks dolar kembali mengalami penguatan yang cukup signifikan sehingga berdampak terhadap kenaikan harga minyak mentah,” ujar Ibrahim.
Dari sisi internal, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61% belum mampu menopang penguatan rupiah. Hal ini karena pertumbuhan tersebut masih ditopang oleh konsumsi masyarakat dan belanja negara, sementara kontribusi investasi dinilai relatif kecil.
Ia juga menyoroti meningkatnya tekanan di sektor ketenagakerjaan. Sepanjang Januari hingga April 2026, sekitar 40.000 pekerja di sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan elektronik telah mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK), dengan potensi peningkatan dalam beberapa bulan ke depan.
Selain itu, dominasi sektor informal dinilai menjadi tantangan tersendiri bagi perekonomian. Tercatat sekitar 87,74 juta tenaga kerja berada di sektor informal, jauh lebih besar dibandingkan sektor formal, yang mencerminkan tekanan pada kondisi ketenagakerjaan secara riil.
Di sisi lain, pasar juga tengah menunggu keputusan MSCI terkait peringkat pasar saham Indonesia dalam waktu dekat. Ibrahim menyebut, sentimen ini turut menambah tekanan terhadap rupiah.
“Pasar sedang menunggu rilis data dari MSCI… ini yang membuat rupiah kembali mengalami pelemahan,” tutupnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar