periskop.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada perdagangan Rabu (20/5), di tengah dominasi sentimen global. Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh penguatan dolar AS yang didorong ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Untuk perdagangan Rabu (20/5), rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun cenderung melemah di kisaran Rp17.700 hingga Rp17.750 per dolar AS,” kata Ibrahim dalam keterangannya, Rabu (20/5).

Ia menjelaskan, sentimen eksternal masih menjadi faktor utama yang membayangi pergerakan mata uang emerging markets, termasuk rupiah. Perkembangan negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran menjadi salah satu perhatian pasar. Meski terdapat upaya meredakan konflik, ketidakpastian di kawasan Timur Tengah dinilai masih cukup tinggi.

Selain itu, pasar juga mencermati dinamika kebijakan ekonomi Amerika Serikat, terutama setelah adanya perubahan kepemimpinan bank sentral AS. Kondisi tersebut membuat investor cenderung berhati-hati dan mempertahankan posisi pada aset safe haven seperti dolar AS.

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga berkaitan dengan tingginya ketergantungan impor, khususnya pada sektor pangan. Ibrahim menilai pelemahan nilai tukar berpotensi mempercepat kenaikan biaya impor yang kemudian diteruskan ke harga barang di dalam negeri.

“Transmisi pelemahan rupiah ke harga relatif cepat, terutama untuk komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai yang langsung digunakan industri,” jelasnya. Dengan kombinasi tekanan eksternal dan domestik tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan Rabu diperkirakan masih terbatas dengan kecenderungan melemah.