Periskop.id - Danantara Indonesia dan Badan Pengaturan (BP) BUMN mengarahkan restrukturisasi PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) agar menjadi pemain utama jalan tol kedua di Indonesia setelah PT Jasa Marga (Persero) Tbk. (JSMR). Arah transformasi tersebut dibahas dalam pertemuan antara jajaran direksi Waskita dan pimpinan BP BUMN.

Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara Indonesia Dony Oskaria menegaskan, proses penyehatan WSKT tak boleh sekadar menunda penyelesaian kewajiban utang. Menurutnya, fokus bisnis perusahaan wajib bergeser secara permanen ke sektor yang menghasilkan arus kas stabil, dengan perhitungan yang realistis dan terukur demi memulihkan kepercayaan pasar.

"Waskita jadi perusahaan tol kedua setelah Jasa Marga, itu tidak apa-apa asal dihitung dengan benar," ujar Dony dalam siaran pers, Sabtu (18/7/2026).

Pertemuan antara Dony dan jajaran direksi Waskita berlangsung Jumat (17/7/2026). Dalam forum tersebut, kedua pihak mengevaluasi total valuasi aset, kapasitas pembayaran utang, proyeksi arus kas, hingga kemungkinan perubahan model bisnis emiten BUMN Karya itu.

Bisnis jalan tol dipilih sebagai salah satu arah utama karena karakteristiknya yang memberi pendapatan jangka panjang. Pengelolaan jalan tol dinilai punya prospek kuat sebagai fondasi bisnis Waskita ke depan.

Meski begitu, ekspansi ke sektor tol baru bisa berjalan setelah kondisi keuangan Waskita benar-benar sehat. Perusahaan perlu mampu memenuhi kewajibannya secara mandiri agar kepercayaan para pemangku kepentingan pulih, sekaligus membuka peluang pendanaan baru, termasuk lewat pasar modal.

BP BUMN bersama Danantara menyatakan bakal terus mengawal penataan model bisnis dan perbaikan tata kelola Waskita. Langkah ini ditargetkan menuntaskan persoalan likuiditas perseroan agar kasus kegagalan finansial serupa tak terulang.

Di tengah proses restrukturisasi, Waskita justru mencatat capaian baru di lini bisnis konstruksi. Perseroan meraih kontrak pembangunan Jalan Tol Yogyakarta-Bawen Seksi 3 senilai Rp2,1 triliun, melalui skema Kerja Sama Operasi (KSO) bersama PP dan WIKA.

Proyek tersebut mencakup konstruksi jalan sepanjang 8,1 kilometer di Magelang, Jawa Tengah, termasuk pembangunan trase utama dan trase akses hingga Simpang Susun Borobudur.

Dari sisi kinerja keuangan, Waskita membukukan pendapatan usaha Rp4,91 triliun sepanjang semester I/2026, melonjak 58,49% secara tahunan. Namun beban pokok pendapatan ikut naik tajam 80,78% YoY menjadi Rp4,41 triliun, sehingga laba bruto justru terkoreksi 23,76% ke posisi Rp504,20 miliar. Kendati begitu, efisiensi di pos pengeluaran lain berhasil menekan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk, dari Rp2,30 triliun pada periode sebelumnya menjadi Rp1,91 triliun, atau turun 16,96% YoY.

"Proyek ini sangat penting untuk mempercepat mobilitas sekaligus mendorong peningkatan sektor pariwisata," ujar Direktur Operasi I Waskita Karya Ari Asmoko dalam siaran pers, Selasa (23/6/2026).