Periskop.id - Kecerdasan artifisial diproyeksikan menyumbang US$366 miliar bagi perekonomian Indonesia pada 2030. Pemerintah berharap potensi itu bisa dioptimalkan lewat keikutsertaan Indonesia sebagai negara pendiri World Artificial Intelligence Cooperation Organization (WAICO).
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan, keanggotaan Indonesia di WAICO merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto agar RI ikut berperan dalam penyusunan tata kelola AI di tingkat global. Sebagai negara pendiri, ia menyebut Indonesia memperoleh akses lebih awal untuk mengikuti pembahasan perkembangan AI di kancah internasional.
"Dengan menjadi founder kita tentu mempunyai akses pertama terhadap seluruh pembicaraan mengenai perkembangan AI itu sendiri," ujar Airlangga dalam konferensi pers virtual dari Shanghai, China, Jumat (17/7).
Status sebagai negara pendiri, menurut Airlangga, memberi Indonesia kesempatan ikut merumuskan pengembangan AI yang inklusif, aman, tepercaya, beretika, dan tak dimonopoli oleh negara atau kekuatan tertentu. WAICO sendiri dibentuk dalam kerangka Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk mendorong kolaborasi internasional dalam tata kelola AI yang berpusat pada manusia.
"AI diharapkan menjadi jembatan, bukan menjadi digital divide, tetapi menjadi jembatan untuk kebersamaan. Kehadiran Indonesia juga menunjukkan bahwa pengelolaan AI perlu lebih aman, tepercaya, dan beretika," kata Airlangga.
Selain berperan dalam penyusunan tata kelola AI global, Airlangga menyebutkan keanggotaan Indonesia di WAICO juga membuka peluang memperluas transfer teknologi, menarik investasi, membangun pusat riset AI, serta memperkuat pengembangan talenta digital nasional. Pemerintah, lanjutnya, ingin mendorong pemanfaatan AI oleh startup dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) agar produktivitas dan daya saingnya meningkat.
"Indonesia sangat peduli terhadap perkembangan AI yang sifatnya inklusif, aman, beretika, dan tidak dimonopoli oleh sebuah kekuatan tertentu," ujar Airlangga.
Sejumlah studi, menurut Airlangga, memperkirakan AI berpotensi menyumbang sekitar US$366 miliar bagi perekonomian Indonesia pada 2030. Pada periode yang sama, nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan berkisar antara US$210 miliar hingga US$360 miliar.
Dalam kunjungan kerjanya ke Shanghai, Airlangga turut bertemu Menteri Perdagangan China Wang Wentao untuk membahas penguatan kerja sama di bidang industri, perdagangan, dan ekonomi digital.
Ia juga menyempatkan diri mengunjungi sejumlah perusahaan teknologi asal China, di antaranya ByteDance, Huawei, Deep Robotics, Unitree, dan FiberHome.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar