Periskop.id – Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno memastikan ruang publik di Jakarta tidak hanya menjadi lokasi kegiatan seremonial. Taman Ismail Marzuki, kawasan kampus, taman kota, dan ruang bersama lainnya harus tetap aman bagi warga untuk berkumpul, bertukar gagasan, menyampaikan pendapat, hingga mengkritik pemerintah.

Pernyataan itu disampaikan Rano saat menghadiri kuliah umum bertajuk Jalan Buntu Reformasi di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (18/7). Forum tersebut mempertemukan akademisi, aktivis, sejarawan, organisasi masyarakat, serta ratusan mahasiswa dari berbagai daerah.

“Komitmen kami jelas. Jakarta harus tetap menjadi kota tempat masyarakat bebas berkumpul, berpendapat, dan berdiskusi tanpa rasa takut. Taman Ismail Marzuki, kampus-kampus, serta ruang publik lainnya harus selalu terbuka bagi forum-forum diskusi ilmiah dan kritis,” ujarnya.

Rano menilai keterbukaan ruang publik menjadi bagian penting dalam membangun iklim demokrasi di kota metropolitan. Menurutnya, ruang bersama perlu memberi kesempatan kepada masyarakat untuk menyampaikan pandangan yang berbeda, termasuk kritik terhadap kebijakan pemerintah.

Dalam laporan Detik, Rano bahkan menegaskan, forum kritis tetap harus mendapat tempat meskipun pembahasannya menyoroti kinerja pemerintah daerah.

“Kampus ke kampus, ruang-ruang publik kota harus tetap terbuka untuk forum seperti hari ini. Termasuk ketika isinya mengkritik kami (pemerintah),” tuturnya.

Kuliah umum tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan 30 tahun Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli atau Kudatuli. Diskusi membahas perjalanan reformasi, demokrasi, oligarki, pembangunan perkotaan, serta kondisi ruang sipil di Indonesia.

TIM Bukan Sekadar Gedung Pertunjukan

Pemilihan Taman Ismail Marzuki (TIM) sebagai lokasi acara dinilai memiliki makna tersendiri. Rano menyebut kawasan tersebut sebagai ruang kebudayaan yang berperan dalam merawat ingatan kolektif bangsa sekaligus mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

TIM telah berdiri sejak 1968 dan dibangun sebagai tempat masyarakat, khususnya seniman, untuk berkarya, berekspresi, serta mengapresiasi seni. Kawasan ini memiliki sejumlah fasilitas, antara lain Teater Besar, Teater Kecil, Galeri Cipta, Planetarium Jakarta, Perpustakaan Jakarta, serta Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Laporan Tahunan Jakarta Propertindo mencatat ruang galeri di TIM digunakan untuk 90 kegiatan sepanjang 2023. Revitalisasi kawasan tersebut sebelumnya juga diarahkan untuk mengembalikan fungsi TIM sebagai pusat pengembangan seni dan budaya sekaligus meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau.

Karena itu, keterbukaan TIM dinilai tidak cukup hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik. Kawasan tersebut juga harus aktif digunakan sebagai tempat berlangsungnya diskusi, pameran, pertunjukan, dan pertemuan publik.

Dalam kuliah umum itu, Rano turut mengaitkan pembangunan Jakarta dengan kisah Si Doel. Menurutnya, cerita tersebut menggambarkan perjuangan warga biasa menghadapi modernisasi, penataan kota, persoalan hunian, serta keterbatasan akses pendidikan dan pekerjaan.

“Semangat kepedulian sosial harus hadir secara nyata dalam bentuk kebijakan, bukan sekadar pidato formal. Indikator keberhasilan setiap kebijakan di Jakarta adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu mempermudah dan memanusiakan kehidupan warga, terutama dalam aspek hunian, penataan kota, serta akses terhadap layanan dasar,” tegasnya.

Rano mengatakan pemerintah tidak semestinya bersikap defensif ketika menghadapi kritik. Masukan masyarakat justru perlu menjadi bahan evaluasi agar pembangunan kota tidak hanya berorientasi pada infrastruktur, tetapi juga memperhatikan kehidupan warga yang terdampak kebijakan.

Ia kemudian mengutip filosofi masyarakat Betawi untuk menggambarkan pentingnya terus mencari solusi ketika menghadapi kebuntuan.

“Orang Betawi memiliki ungkapan, 'Kalau jalan buntu jangan berhenti, cari gang, cari lorong'. Jakarta adalah kota seribu gang. Melalui ruang-ruang kecil yang humanis, warga berinteraksi dan berdiskusi. Dari sanalah solusi-solusi pragmatis untuk memajukan kota kerap lahir,” pungkasnya.

Ruang Terbuka Didorong Menjadi Panggung Seni

Komitmen membuka ruang publik juga terlihat dalam penyelenggaraan pameran seni kontemporer Jakarta Provoke 2026 di Taman Menteng. Pameran yang melibatkan 25 seniman dan 25 kurator tersebut dijadwalkan berlangsung hingga 26 Juli 2026.

Rano bahkan mengusulkan agar pameran tahun berikutnya diselenggarakan dalam skala lebih besar di koridor Sudirman-Thamrin sebagai bagian dari peringatan 500 tahun Jakarta pada 2027.

“Saya menantang panitia, tahun depan Jakarta akan berusia 500 tahun. Kita punya ruang luar yang panjangnya luar biasa, mulai dari Ratu Plaza sampai Hotel Indonesia, itulah ruang pamer kita,” ujar Rano, Jumat (17/7).

Menurut Rano, pemanfaatan taman kota dan koridor utama sebagai ruang pamer dapat memperluas akses masyarakat terhadap karya seni. Aktivitas kebudayaan yang terbuka juga dinilai dapat memperkuat posisi Jakarta sebagai kota global.

Setelah mengikuti kuliah umum, Rano meninjau Pameran Seni Kolaboratif EVANESCENCE di Galeri Cipta 1 TIM. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari dukungan Pemprov DKI terhadap perkembangan seni rupa kontemporer sekaligus menjaga TIM sebagai ruang kreativitas, dialog, dan ekspresi budaya yang dapat diakses masyarakat.