Periskop.id - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) resmi mendistribusikan dividen tunai tahun buku 2025 senilai Rp5,05 triliun kepada para pemegang saham. Nilai tersebut melonjak 38% dibandingkan dividen tahun buku 2024 yang sebesar Rp3,65 triliun.

Direktur Utama Aneka Tambang Untung Budiharto menyebutkan, pembayaran dividen ini menjadi bagian dari komitmen perusahaan menjaga profitabilitas sekaligus menciptakan nilai jangka panjang bagi pemegang saham. Total dividen yang dibagikan setara 70% dari laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

"Selain itu, pembagian dividen ini juga mencerminkan kontribusi nyata perusahaan terhadap pertumbuhan ekonomi nasional," kata Untung dalam keterbukaan informasi Bursa, Jumat (17/7).

Keputusan pembagian dividen tersebut merujuk pada hasil Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) ANTM untuk tahun buku 2025. Dividen tunai itu sendiri sudah dicairkan sejak 10 Juli 2026.

Dividen per saham yang diterima pemegang saham tercatat sebesar Rp209,98867. Angka ini setara dengan Rp1.049,94335 per CHESS Depository Interest (CDI) bagi pemegang CDI ANTM di Australian Securities Exchange (ASX).

Saham ANTM di ASX memang diperdagangkan dalam bentuk CDI, semacam sertifikat penitipan efek ASX. Satu unit CDI setara dan dapat ditukar dengan lima saham biasa Seri B Antam.

Kebijakan pembagian dividen ANTM sendiri mengacu pada Prospektus Penawaran Umum perusahaan. Dalam dokumen tersebut, Antam berupaya menghadirkan nilai tambah bagi pemegang saham lewat pembagian dividen tunai minimal satu kali dalam setahun.

Kebijakan itu tetap mempertimbangkan kondisi keuangan dan tingkat kesehatan perusahaan, tanpa mengurangi kewenangan RUPS. ANTM menetapkan batas minimum pembagian dividen sebesar 30% dari laba bersih setelah pajak, kecuali RUPS memutuskan kebijakan berbeda.

Konsistensi pembagian dividen ini turut membuat ANTM mempertahankan posisinya sebagai salah satu emiten unggulan dalam Indeks IDX High Dividend20 di BEI.

Kenaikan dividen tahun ini menjadi sinyal positif di tengah performa laba perusahaan yang terus dipantau investor, khususnya pemegang saham yang mengandalkan ANTM sebagai emiten berimbal hasil tinggi.