Periskop.id - Pergelaran Piala Dunia 2026 sukses mencatatkan sejarah baru sebagai kompetisi sepak bola terbesar yang pernah ada. 

Turnamen akbar ini melibatkan 3 negara penyelenggara dengan 16 kota tuan rumah. Peningkatan skala kompetisi terlihat sangat jelas dari kehadiran 48 negara peserta serta total 104 pertandingan yang dimainkan sepanjang turnamen.

Meskipun euforia pertandingan di lapangan hijau segera berakhir, efek domino atau dampak ekonomi yang dihasilkan diproyeksikan masih akan terus berlanjut dalam jangka panjang. 

Berdasarkan data yang diunggah oleh Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) melalui akun instagram resmi mereka pada Jumat (17/7), turnamen ini diproyeksikan mampu menyumbang tambahan Produk Domestik Bruto (PDB) hingga mencapai US$40,9 miliar di ranah global. 

Tidak hanya itu, pergelaran ini juga diperkirakan sukses membuka hingga 824 ribu lapangan kerja baru di berbagai penjuru dunia.

Sebagai salah satu tuan rumah utama, Amerika Serikat tentu menjadi negara yang meraup keuntungan sangat besar. Proyeksi ekonomi khusus untuk negeri Paman Sam tersebut mencakup potensi tambahan PDB senilai US$17,2 miliar. 

Pertumbuhan aktivitas ekonomi di sana juga berimbas positif pada sektor ketenagakerjaan dengan prediksi terciptanya 185 ribu lapangan kerja baru.

Dampak Ekonomi Piala Dunia 2026 ke Indonesia

Dampak positif dari turnamen sepak bola terakbar ini ternyata tidak hanya dinikmati oleh negara-negara penyelenggara maupun tim yang bertanding. Ekonomi Indonesia secara nyata ikut bergerak dan merasakan cipratan berkah finansial dari ajang empat tahunan ini. 

Berdasarkan kajian dari Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia pada 2026, nilai ekonomi Piala Dunia 2026 bagi Indonesia diperkirakan menembus angka fantastis, yaitu mencapai Rp5,03 triliun. Nilai tersebut mencakup seluruh perputaran ekonomi yang terjadi, baik yang mengalir secara langsung maupun tidak langsung.

Walaupun tim nasional Indonesia belum berkesempatan menjadi negara peserta di dalam turnamen ini, masyarakat tanah air tetap memberikan kontribusi besar yang memicu lahirnya multiplier effect atau efek pengganda ekonomi. 

Efek berantai ini bergerak aktif melalui lonjakan konsumsi pada berbagai sektor usaha domestik. Beberapa sektor yang tercatat mengalami pergerakan signifikan meliputi belanja rumah tangga, penggunaan layanan streaming berbayar, industri media dan periklanan, sektor hotel, restoran, dan kafe (HOREKA), penjualan merchandise resmi, hingga geliat aktivitas UMKM di berbagai daerah.

Indonesia Menjadi Pasar Sepak Bola Raksasa

Munculnya gelombang dampak ekonomi yang besar di Indonesia ini tentu tidak terjadi tanpa alasan yang kuat. Indonesia secara global telah diakui sebagai salah satu pasar penikmat olahraga sepak bola terbesar di dunia. 

Data dari YouGov Global Survey pada 2022 memperlihatkan realitas menarik, di mana sebanyak 7 dari 10 orang Indonesia atau sekitar 70% penduduknya mengaku sangat menyukai pergelaran Piala Dunia. 

Tingkat kecintaan masyarakat terhadap sepak bola ini tercatat jauh lebih tinggi apabila disandingkan dengan antusiasme terhadap ajang olahraga multievent seperti Olimpiade yang hanya mengantongi angka 37%.

Tingginya antusiasme serta loyalitas penikmat sepak bola di dalam negeri inilah yang menjadi motor penggerak utama di balik lonjakan konsumsi lintas sektor. 

Karakteristik masyarakat yang rela merogoh kocek demi menyaksikan dan merayakan pesta sepak bola dunia pada akhirnya memicu efek yang sangat besar bagi stabilitas serta pertumbuhan ekonomi negara-negara penikmat sepak bola, termasuk salah satunya adalah Indonesia.