Periskop.id - Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag) Kamaruddin Amin menegaskan, Kementerian Agama telah bergerak menindaklanjuti instruksi Menteri Agama untuk membantu korban banjir di wilayah Sumatra. Di antaranya dengan membuka donasi hingga memperkuat kerja sama lintas sektor.
“Pak menteri menginstruksikan kepada kami semua dan kami mengimbau kanwil-kanwil, para kepala kantor Kementerian Agama kota, provinsi, para rektor, untuk mengambil langkah-langkah teknis untuk membantu masyarakat yang bisa dilakukan,” ujar Sekjen Kemenag Kamaruddin Amin dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu (29/11).
Kamaruddin menjelaskan, mekanisme penggalangan dana tidak hanya melibatkan masyarakat umum, tetapi juga seluruh aparatur sipil negara (ASN) Kementerian Agama. Menurutnya, langkah ini dilakukan secara sinergis dengan berbagai lembaga filantropi, termasuk Baznas.
Ia menekankan, upaya yang dilakukan Kemenag merupakan gerakan kebaikan yang terbuka bagi seluruh pihak. Kolaborasi lintas sektor menjadi penting, terutama untuk memastikan bantuan yang disalurkan, dapat tepat sasaran dan sesuai dengan kondisi di lapangan.
“Jadi ini kebaikan, saya kira ya, semua pihak yang dipersilakan untuk bisa membantu meringankan beban saudara-saudara kita yang sedang ada dalam musibah. Itu juga pastinya terkoordinasi dengan BNPB,” katanya.
Tidak hanya itu, ia juga menegaskan pentingnya bantuan nonfisik sebagai bentuk dukungan moral bagi para korban terdampak. Menurutnya, peran berbagai pihak juga akan digerakkan untuk memberikan dukungan spiritual maupun sosial.
“Jadi, di samping tangible (bantuan-bantuan fisik), ya tentu juga yang intangible ya, misalnya doa bersama dan sebagainya, juga melibatkan dosen-dosen, untuk bisa bersinergi bersama,” ujarnya.
Sebelumnya, ratusan paket bantuan logistik mulai dari sembako, peralatan darurat genset, hingga perangkat komunikasi satelit internet termasuk perlengkapan pengungsian dari pemerintah pusat tiba di Sumatera Utara (Sumut). Bantuan tersebut kemudian langsung didistribusikan.
Bantuan keperluan tanggap darurat bencana tersebut dikirim Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menggunakan pesawat kargo dari Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta ke Bandara Silangit, Tapanuli Utara, Sumut, Jumat siang.
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Jumat, mengatakan, seluruh bantuan segera dibongkar dan dipersiapkan untuk distribusi lebih lanjut. Distribhsu dilakukan baik melalui jalur darat maupun udara menggunakan helikopter, guna memastikan penanganan darurat berjalan cepat dan tepat sasaran.
BNPB merinci bantuan logistik itu didistribusikan ke daerah terdampak, mulai dari Kota Sibolga, meliputi 200 paket sembako, 200 pouch makanan siap saji dan satu unit tenda pengungsi. Ada juga 100 matras, 20 velbed, 100 selimut, satu pompa alcon 6 HP, satu genset, serta satu perahu polietilen lengkap dengan mesin.
Bantuan dan Jumlah Korban
Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menyatakan, per 29 November 2025, total ada 11 helikopter milik TNI dan Basarnas terbang mengangkut bantuan dari Jakarta menuju lokasi bencana di tiga provinsi di Sumatra.
Seperti diketahui, sejumlah kota dan kabupaten di Provinsi Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat pada Selasa (25/11) diterjang banjir bandang dan longsor yang mengakibatkan seratusan lebih warga meninggal dunia. Selain itu, ratusan warga lainnya masih dinyatakan hilang, serta akses transportasi, listrik, dan komunikasi terputus.
"Sampai dengan hari ini, pemerintah telah mengirimkan total 11 helikopter TNI dan Basarnas dari Jakarta ke lokasi daerah terdampak bencana. Sebanyak sembilan helikopter sudah berada di lokasi sejak tanggal 26 November 2025, dan dua helikopter telah terbang ke Aceh dari Jakarta pagi ini," kata Teddy, Sabtu.
Teddy menjelaskan, helikopter-helikopter itu terus dioperasikan untuk menyalurkan bantuan menuju lokasi bencana. Khususnya daerah-daerah terpencil dan daerah-daerah yang jalur daratnya terputus akibat banjir bandang dan longsor.
"Helikopter-helikopter ini terbang di sekitar lokasi bencana untuk terus-menerus mendistribusikan logistik, terutama di daerah terdalam serta di daerah yang jalur daratnya terputus," ujarnya.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Letjen TNI Suharyanto pada Jumat (28/11), mengumumkan data sementara korban akibat banjir bandang dan longsor di tiga provinsi Sumatra, yaitu 174 korban jiwa, 79 warga hilang dan 12 korban luka-luka. Dari angka itu, yang merupakan data per 28 November 2025, 116 korban meninggal dunia dan 42 orang hilang berada di wilayah Sumatra Utara.
Di Tapanuli Utara, jumlah korban jiwa sebanyak 11 orang, Tapanuli Tengah 51 orang, Tapanuli Selatan 32 orang, Kota Sibolga 17 orang, Kabupaten Humbang Hasundutan 6 orang, Kota Padang Sidempuan 1 orang, dan Pakpak Barat 2 orang.
"Tentu saja data ini akan berkembang terus, (karena) masih ada titik-titik yang belum ditembus. Yang diindikasikan di lokasi longsor itu mungkin juga ada korban jiwa," kata Suharyanto, Jumat.
Adapun data korban di Provinsi Aceh per 28 November, antara lain 35 warga meninggal dunia, 25 warga dinyatakan hilang, dan 8 orang luka-luka. Korban terbanyak berasal dari Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tenggara, dan Kabupaten Aceh Tengah. Hingga saat ini, pendataan masih berlangsung di sejumlah wilayah seperti Aceh Timur, Aceh Singkil, dan Aceh Utara.
"Ini akan berkembang terus datanya," ujar Suharyanto.
Kemudian, Suharyanto menyebutkan per 28 November 2025 jumlah korban di Sumatra Barat, yaitu 23 orang meninggal dunia, 12 orang dinyatakan hilang, dan 4 orang luka-luka. Korban bencana di Sumatra Barat itu tersebar di Padang Panjang, Tanah Datar, Agam, Kota Padang, dan Pasaman Barat.
Suharyanto melanjutkan jumlah pengungsi di Sumatra Barat sementara ini ada 3.900 KK. "Pengungsi terdata ada 3.900 KK. Yang terparah ada di Padang Pariaman, Tanah Datar, Kabupaten Solok dan Kota Padang," imbuhnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar