periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan kepada institusi Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) yang kerap menjadi sasaran kritik dan sorotan publik. Prabowo meminta jajaran kepolisian untuk tabah sambil membandingkannya dengan pengalaman pahit yang pernah dilalui TNI.
“Saya tahu Saudara-saudara, polisi banyak jadi sasaran. Itu risiko. TNI juga dulu jadi sasaran. Jenderal-jenderal kita yang paling hebat dimaki-maki, dituduh penjahat perang, dituduh melanggar HAM,” kata Prabowo di Jakarta Barat, Jumat (13/2).
Prabowo juga menyinggung negara-negara Barat yang sering memberikan pelajaran Hak Asasi Manusia (HAM) kepada Indonesia. Namun, negara-negara Barat justru memiliki rekam jejak yang kontradiktif di dunia internasional. Ia menegaskan, sepanjang sejarahnya, TNI tidak pernah melakukan tindakan keji seperti mengebom fasilitas publik atau tempat ibadah.
“Rasanya TNI enggak pernah ngebom rumah sakit, panti asuhan, sekolah, gereja, atau masjid. Negara-negara Barat yang mengajarkan HAM kepada kita, Anda tahu maksud saya ya,” jelasnya.
Bahkan, Prabowo menggunakan istilah Jawa untuk menyindir perilaku standar ganda tersebut.
“Kalau istilah dulu kita jarkoni, iso ngajar ora iso nglakoni (bisa mengajar tapi tidak bisa menjalankan). Mereka mengajari kita, tapi dulu TNI yang selalu diserang bulan-bulanan,” lanjutnya.
Prabowo pun meminta Polri untuk tidak goyah dalam menjalankan tugas, meskipun menjadi sasaran kritik publik. Bagi Presiden, tekanan tersebut adalah bagian dari risiko pengabdian yang harus diterima dengan lapang dada asalkan dilandasi niat yang tulus.
“Yah polisi ya tabahlah, kau juga jadi sasaran bulan-bulanan, enggak apa-apa. Itu risiko. Yang penting niat baik, pengorbanan untuk bangsa dan negara,” tutup Prabowo.
Tinggalkan Komentar
Komentar