periskop.id - Presiden Prabowo Subianto memberikan pernyataan tegas mengenai manajemen evaluasi di tubuh institusi Polri. Prabowo mengkritik logika publik yang sering kali mendesak pencopotan pimpinan tertinggi hanya karena ulah segelintir oknum anggota di lapangan.
“Kalau ada dalam institusi ratusan ribu orang, kalau ada yang tidak benar, ya tindak (oknumnya). Saya ibaratkan kalau ada sekolah, murid-muridnya ada yang brengsek, ada yang tawuran, ada yang kurang ajar, ya muridnya (yang ditindak), bukan kepala sekolahnya yang dicopot. Keliru itu. Terbalik!” kata Prabowo dengan nada bicara lugas, di SPPG Polri Jakarta Barat, Jumat (13/2).
Menurut Presiden, mendesak penutupan institusi atau pencopotan pimpinan akibat kesalahan bawahan adalah logika yang keliru. Namun, ia menyadari hal tersebut merupakan konsekuensi dari jabatan tinggi yang diemban para perwira.
“Ini adalah risiko seorang pemimpin. Kau itu dikasih bintang di sini (pundak) untuk tahan banting, tahan maki-maki, tahan serangan. Apalagi serangannya di media sosial. Media sosial itu banyak buzzer,” jelasnya.
Prabowo meminta jajaran pimpinan Polri untuk tetap tegar dan tidak goyah oleh opini negatif di media sosial. Menurutnya, jawaban terbaik atas segala serangan dan makian adalah pembuktian melalui kinerja nyata kepada masyarakat.
“Kita harus tegar. Yang jelas kita buktikan kepada rakyat. Hari ini saya harus mengatakan bahwa saya bangga dan puas dengan prestasi ini,” pungkas Presiden.
Adapun, Prabowo mengaku bangga dan puas, terutama atas keberhasilan dukungan instansi tersebut terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pada kesempatan yang sama, Prabowo secara resmi menandatangani prasasti peresmian 510 unit SPPG dan 18 Gudang Ketahanan Pangan Polri. Melalui penekanan tombol LED, Prabowo juga menandai dimulainya operasional 411 SPPG Polri, 162 unit persiapan operasional, serta groundbreaking untuk 107 unit SPPG baru di seluruh pelosok tanah air.
Tinggalkan Komentar
Komentar