Periskop.id - Kondisi ekonomi dunia pada awal tahun 2026 menunjukkan dinamika yang sangat kontras di antara negara-negara anggota G20.
Berdasarkan kompilasi data terbaru dari berbagai lembaga statistik nasional dan berita internasional, beberapa negara berkembang masih menunjukkan taji dengan pertumbuhan yang sangat ekspansif, sementara sejumlah raksasa ekonomi Eropa justru harus berjuang melawan ancaman stagnasi.
India mengukuhkan posisinya sebagai negara dengan performa paling mengesankan di dunia saat ini. Melansir data dari Press Information Bureau (PIB) India, negara tersebut mencatat pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) sebesar 8,2% secara tahunan (year on year) pada kuartal kedua.
Angka ini menempatkan India jauh di atas negara-negara lainnya, didorong oleh konsumsi domestik yang kuat serta peningkatan investasi di berbagai sektor strategis.
Di posisi berikutnya, Indonesia menunjukkan ketangguhan yang luar biasa. Berdasarkan rilis resmi Badan Pusat Statistik (BPS) pada Februari 2026, ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 berhasil tumbuh sebesar 5,11%.
Pencapaian ini menegaskan stabilitas ekonomi nasional di tengah gejolak pasar global. Pertumbuhan Indonesia tersebut didampingi oleh Tiongkok yang mencatat angka 5% secara tahunan untuk periode 2025, sebagaimana dilaporkan oleh Reuters.
Kebangkitan Ekonomi Timur Tengah dan Amerika Serikat
Arab Saudi juga mencatatkan performa yang sangat positif dengan pertumbuhan sebesar 4,9% pada kuartal keempat.
Langkah diversifikasi ekonomi di bawah visi transformasi nasional mereka mulai membuahkan hasil yang nyata, membuat kerajaan ini tetap kompetitif meski pasar energi global mengalami fluktuasi.
Sementara itu, kejutan datang dari Amerika Serikat. Sebagai ekonomi terbesar di dunia, Amerika Serikat tetap mampu tumbuh dengan kecepatan yang luar biasa yakni sebesar 4,4% secara tahunan pada kuartal ketiga tahun 2025 berdasarkan data dari Bureau of Economic Analysis (BEA).
Angka ini jauh melampaui rata-rata pertumbuhan negara maju lainnya, yang sering kali berada di bawah ambang 2%.
Kontras di Kawasan Amerika Latin dan Asia Pasifik
Di kawasan Amerika Latin, Argentina memimpin dengan pertumbuhan 3,3% pada kuartal ketiga, sebuah pemulihan yang signifikan meskipun masih dibayangi tantangan inflasi.
Brasil menyusul dengan angka 1,8%, sedangkan Meksiko mencatatkan pertumbuhan 1,6% pada kuartal keempat menurut data dari INEGI.
Beralih ke kawasan Asia Pasifik, Turki mempertahankan momentum pertumbuhannya di angka 3,7% pada kuartal ketiga. Australia mencatatkan angka 2,1%, disusul oleh Korea Selatan dengan pertumbuhan 1,5% dan Jepang yang tumbuh perlahan di angka 1,1 persen.
Di belahan dunia lain, Kanada mencatat pertumbuhan yang moderat sebesar 1,4%.
Eropa Masih Lesu dan Tantangan di Rusia
Kawasan Eropa tampaknya masih menghadapi jalan terjal untuk pulih sepenuhnya. Uni Eropa secara keseluruhan hanya mencatat pertumbuhan 1,4% pada kuartal keempat tahun 2025.
Prancis dan Italia masing-masing tumbuh sebesar 0,9% dan 0,8%. Inggris menunjukkan sedikit perbaikan dengan pertumbuhan tahunan 1,3 persen pada 2025.
Namun, kondisi yang paling mengkhawatirkan terlihat di Jerman. Sebagai mesin ekonomi utama Eropa, Jerman tercatat hampir stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,2% sepanjang tahun 2025 menurut laporan Federal Statistical Office (Destatis). Stagnasi ini dipicu oleh biaya energi yang masih tinggi dan melambatnya sektor manufaktur.
Rusia juga menghadapi situasi sulit dengan pertumbuhan yang sangat rendah sebesar 0,6% pada kuartal ketiga menurut Rosstat. Hal ini mencerminkan dampak tekanan sanksi internasional yang mulai terasa pada produktivitas ekonomi jangka panjang mereka.
Terakhir, Afrika Selatan mencatatkan pertumbuhan kumulatif hingga kuartal ketiga sebesar 1,2%.
Berikut adalah daftar lengkap peringkat pertumbuhan ekonomi tersebut untuk memudahkan pemetaan:
- India: 8,20% (kuartal 2, yoy)
- Indonesia: 5,11% (tahunan 2025, ytd)
- Tiongkok: 5% (tahunan 2025, ytd)
- Arab Saudi: 4,90% (kuartal 4, yoy)
- Amerika Serikat: 4,40% (kuartal 3, yoy)
- Turki: 3,70% (kuartal 3, yoy)
- Argentina: 3,30% (kuartal 3, yoy)
- Australia: 2,10% (kuartal 3, yoy)
- Brasil: 1,80% (kuartal 3, yoy)
- Meksiko: 1,60% (kuartal 4, yoy)
- Korea Selatan: 1,50% (kuartal 4, yoy)
- Uni Eropa: 1,40% (kuartal 4, yoy)
- Kanada: 1,40% (Q3, yoy)
- Inggris: 1,30% (tahunan 2025)
- Afrika Selatan: 1,20% (kumulatif hingga kuartal 3, ytd)
- Jepang: 1,10% (kuartal 3, yoy)
- Prancis: 0,90% (tahunan 2025)
- Italia: 0,80% (kuartal 4, yoy)
- Rusia: 0,60% (kuartal 3, yoy)
- Jerman: 0,20% (tahunan 2025)
Tinggalkan Komentar
Komentar