periskop.id - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Bidang Komunikasi dan Investigasi Nanik Sudaryati Deyang meluruskan maraknya penyebaran informasi keliru terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sejumlah insiden lapangan diklaim kerap mendapat bumbu narasi berlebihan hingga berujung menjadi hoaks di media sosial.
"Ini sudah masaknya pakai ini ono ini, ya kan, sudah pakai alat modern tapi masih ada keracunan, ya kan? Sebetulnya bukan keracunan, kalau menurut saya adalah lebih pada sistem tata kelola," ujarnya dalam acara workshop kehumasan di Jakarta pada Sabtu (7/3).
Ia mencontohkan kehebohan unggahan viral sebuah menu MBG berisi sajian mi dan satu buah pisang. Pihak Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bersama sekolah penerima manfaat memastikan menu tersebut sejatinya turut menyertakan lauk ayam.
Peristiwa serupa juga menimpa sebuah tayangan video penolakan program MBG di wilayah Cilincing, Jakarta Utara. Konten visual tersebut menyebut insiden terjadi di lingkungan sekolah MTs 4 dan MAN 8.
Tim internal langsung turun tangan melakukan pengecekan keabsahan data lembaga pendidikan di kawasan tersebut. Hasil penelusuran membuktikan ketiadaan sekolah bernama MTs 4 maupun MAN 8 di seantero wilayah Cilincing.
Publik juga sempat ramai memperbincangkan temuan benda asing dalam sajian hingga isu keracunan massal. Kejadian kesehatan di Purworejo sempat terseret dalam pusaran isu negatif program andalan pemerintah ini.
Tim investigasi menemukan fakta berbeda terkait pemicu insiden gangguan pencernaan di Purworejo tersebut. Warga ternyata jatuh sakit usai mengonsumsi hidangan dari acara hajatan masyarakat setempat, bukan dari dapur pemenuhan gizi.
Pengelolaan ransum dalam porsi raksasa tentu memiliki tingkat kesulitan tersendiri di lapangan. Para pengelola wajib mengukur secara presisi tingkat kematangan masakan dan standar kebersihan dapur.
Nanik mengatakan seluruh petugas SPPG mendapat instruksi memantau ketat setiap alur tahapan pengolahan bahan mentah. Langkah pengawasan berlapis ini bertujuan mempertahankan konsistensi kualitas dan jaminan keamanan pangan bagi para siswa.
Standar kebersihan alat makan turut menjadi sorotan utama dalam agenda peningkatan kapasitas petugas tersebut. Ia sempat berinteraksi dengan peserta menanyakan rutinitas penggunaan pemanas air saat mencuci wadah makanan khusus di dapur SPPG.
Forum Penguatan Strategi Komunikasi dan Implementasi Kehumasan ini melibatkan lebih dari 1.400 Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI). Peserta kegiatan mencakup elemen Kepala SPPG, Pengawas Keuangan, serta Pengawas Gizi.
BGN menaruh harapan besar para personel SPPI mampu mengeksekusi operasional program secara sempurna. Mereka juga dituntut memiliki kecakapan strategi komunikasi mumpuni demi melumpuhkan penyebaran misinformasi di tengah masyarakat.
Tinggalkan Komentar
Komentar