periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menentang budaya laporan “Asal Bapak Senang (ABS)” yang dinilainya telah mengakar kuat di berbagai institusi negara. Untuk memastikan akurasi data di lapangan, Prabowo mengaku rutin memantau media sosial hingga menyimak berbagai podcast yang memberikan kritik tajam terhadap pemerintahannya.

Prabowo menegaskan, laporan palsu yang hanya bertujuan menyenangkan pimpinan merupakan masalah serius. Laporan semacam itu dapat berdampak fatal pada pengambilan keputusan dan alokasi sumber daya negara.

“Budaya ABS ini, Asal Bapak Senang atau Asal Ibu Senang, dan laporan palsu ini sudah membudaya, saya kira di semua institusi. Ini bagian dari masalah kita. Kalau salah informasi, ya keputusan tidak baik,” kata Prabowo, dikutip Jumat (20/3).

Ia menekankan pentingnya memiliki mentalitas waspada terhadap setiap laporan birokrasi. Baginya, pemimpin harus berani menerima informasi yang tidak menyenangkan demi mendapatkan fakta objektif.

Sebagai bentuk transparansi dan upaya mencari opini kedua (second opinion), Prabowo secara aktif memantau jagat digital, termasuk konten-konten yang menyerangnya secara keras.

“Benar, saya suka monitor postingan, podcast. Yang menyakitkan pun saya tonton. Walaupun dia menyerang dengan cara yang tidak baik, bagi saya itu justru membuat saya lebih waspada. Baru setelah itu saya cek,” tegas Presiden.

Sikap waspada terhadap laporan “manis” tersebut langsung dibuktikan Prabowo melalui pengawasan program nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). Setelah mendapat masukan dan melakukan pengecekan mandiri melalui tim khusus, ia mengambil langkah drastis terhadap penyedia layanan yang bermasalah.

“Contohnya MBG diserang, saya langsung cek. Panggil Kepala BGN (Badan Gizi Nasional) dan saya terus cross-check. Saya kirim orang-orang saya untuk mengecek. Dari sekian puluh ribu dapur, sudah kita tutup lebih dari seribu,” ungkapnya.

Prabowo menekankan bahwa kebiasaan memberikan laporan yang hanya “bagus-bagus saja” merupakan bagian dari budaya lama yang sulit dihapuskan. Meskipun terkadang didasari niat baik agar tidak menyusahkan pimpinan, hal itu justru berbahaya bagi keberlangsungan negara.

“Laporan yang hanya bagus-bagus itu budaya yang tidak baik. Mungkin niatnya baik, tidak mau menyusahkan pimpinan. Tapi untuk jangka panjang, ini masalah,” ujar Prabowo.