periskop.id - Presiden Prabowo Subianto menyatakan dukungannya terhadap kebebasan berpendapat, baik dari pers maupun pengamat. Namun, ia menegaskan adanya perbedaan antara kritik konstruktif berbasis data dengan kritik yang didasari motivasi jahat atau sekadar menyebarkan kebencian.
Menurut Prabowo, kritik yang lahir dari fakta dan fenomena nyata di lapangan sangat membantu pemerintah dalam bekerja. Sebaliknya, ia menyayangkan pihak-pihak yang memberikan kritik hanya untuk memicu kecemasan dan kecurigaan di tengah masyarakat.
“Semua kritik itu baik dan membantu. Tapi ada orang yang kritik dengan niat atau motivasi yang tidak baik. Mereka justru menimbulkan kebencian, kecurigaan, atau kecemasan. Nah, ini menurut saya it's not good,” kata Prabowo, dikutip Jumat (20/3).
Prabowo menekankan, parameter utama dalam menilai sebuah masukan adalah niat dan validitas datanya. Ia menyambut baik kritik yang objektif, tetapi secara terbuka menyebut ada pihak yang memiliki motivasi buruk atau evil dalam menyerang kebijakan pemerintah.
“Satu, niatnya apa? Motivasinya apa? Kalau motivasinya evil, niatnya jahat, itu tidak baik. Kalau kritikan berdasarkan fakta atau fenomena, itu baik. Bagus,” tegasnya.
Kendati demikian, Prabowo mengaku tetap bersedia menyimak berbagai pendapat, termasuk yang tidak berdasar. Baginya, menangkap semua informasi terlebih dahulu adalah hal penting sebelum ia memutuskan untuk mengabaikannya.
“Tetap saya terima, saya anggap itu baik untuk saya. Tetap ditonton. Tapi kalau saya lihat tidak ada gunanya, saya tinggalkan. Tapi saya tangkap dulu,” jelasnya.
Lebih lanjut, Prabowo juga membagikan filosofi hidupnya mengenai pengabdian. Ia berpesan agar setiap individu berusaha membantu sesama sesuai kapasitasnya. Namun, jika tidak mampu membantu, setidaknya jangan memperkeruh suasana atau menyulitkan orang lain.
“Kalau Anda bisa bantu banyak orang, bantu banyak orang. Kalau satu orang pun tidak bisa Anda bantu, jangan membuat susah orang lain. Itulah filosofi saya,” tutur Prabowo.
Prabowo berharap filosofi ini bisa menjadi acuan bagi para kritikus. Ia mengingatkan, mengkritik tanpa data dan hanya berdasarkan kebencian merupakan tindakan yang kurang baik dan merugikan masyarakat luas.
“Kalau kritik berdasarkan kebencian, mengada-ada, dan tidak punya data, itu menurut saya kurang baik,” ungkapnya.
Tinggalkan Komentar
Komentar